Saturday, May 22, 2010

Mang Sacam: Kisah Menyentuh Soal Kehormatan Diri, Tete Sukarsa

Mang Sacam: Potret Perjuangan Untuk menjadi Terhormat
Drs. H. Tete Sukarsa, MH

Yadul ulya khoerum min yadi sufla
Tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah
- Rasulullah Muhammad SAW

Saat itu saya masih duduk di Sekolah Dasar kelas 3, tinggal bersama kedua orangtua saya, Hj. Enok Sa’diah dan Bapak Ikin Nukri, keduanya sudah almarhum (semoga Alloh swt mengampuni dosa – dosa keduanya) di sebuah kawasan utara Bandung, tepatnya di Cihaurgeulis, kurang lebih 1 km ke arah timur dari Gedung Sate. Seperti keluarga yang lainnya setiap hari rumah saya selalu didatangi pedagang yang sengaja datang menjajakan dagangannya. Dari sekian pedagang yang datang, ada salah seorang pedagang yang sampai saat ini saya sulit melupakannya. Ya, saya sulit melupakan keuletan dan kegigihannya di usia yang sudah tidak muda lagi. Dia lah mang Sacam, tukang abu gosok.

Mang Sacam ini pituin urang Bandung. Dia lahir, dibesarkan dan membesarkan anak - anak nya di Bandung, tepatnya daerah Pakar, kawasan salah satu tujuan wisata Bandung yang dulu masih kampung dan sekarang merupakan salah satu daerah elit di kawasan Bandung Utara. Kalau saya sengaja piknik dari Cihaurgeulis ke Pakar saya butuh waktu 3 sampai 4 jam jalan kaki dengan luut - leet kesang. Saya tidak tahu persis berapa waktu yang dibutuhkan mang Sacam untuk sampai di rumah saya sambil nanggung sekarung abu gosok, barang dagangannya dengan sarung disolendang.

Seingat saya, orang tua saya mulai berlangganan abu gosok dari mang Sacam mulai tahun 1975. Hampir tiap hari mang Sacam selalu singgah di rumah karena kebutuhan abu gosok bagi keluarga kami yang beranggotakan cukup untuk dua kesebelasan komplit dengan wasit, pelatih dan pemain cadangan ini sangat vital untuk membersihkan alat dapur dan alat alat lainnya. Saat itu orang tua saya berjualan kue martabak dengan banyak pekerja. Dengan demikian keluarga kami adalah pelanggan mang Sacam yang sangat diandalkan. Usia mang Sacam ketika itu kurang lebih 60 tahun, usia yang sudah tidak muda lagi untuk berjalan jauh apalagi kalau harus sambil nanggung.

Ketika itu saya tidak terlalu peduli dengan usia mang Sacam yang penting tiap hari kebutuhan abu gosok orang tua saya terpenuhi dan mang Sacam setia memenuhi kebutuhan tersebut. Tak kenal hujan dan panasnya terik matahari mang Sacam setia memenuhi kebutuhan abu gosok keluarga sampai akhirnya, ketika rumah kami tergusur proyek Islamic Centre- sekarang menjadi bangunan Pusdai, pada tahun 1990, kami harus pindah ke kawasan timur bandung yang artinya hubungan dagang dengan mang Sacam harus terputus di usia mang Sacam kurang lebih 75 tahun. Ya 75 tahun, usia renta untuk ukuran pedagang yang harus berjalan dari perbukitan Pakar menuju Cihaurgeulis yang saya berjalan lengoh saja harus ditempuh 3 sampai 4 jam.

Tahun 1992 saya menikah dan tiga tahun kemudian, tahun 1995 atas bantuan kakak kandung saya, saya bisa membeli sebuah rumah di kawasan utara Bandung, tepatnya di Jalan Caladi kurang lebih 500 meter arah utara Gedung Sate. Di situlah saya beserta keluarga sempat tinggal sebelum hijrah ke Jatiwangi. Ditahun 1995 inilah sekonyong - konyong datang seseorang yang sangat saya kenal, orang yang telah 5 tahun tidak masuk dalam agenda kehidupan. Ya mang Sacam kembali hadir membawa barang dagangannya, abu gosok, di usia 80 tahun. Berjalan menyusuri gang dan jalan raya dengan kundang iteuk dan tertatih - tatih serta suara parau dimakan usia menawarkan barang dagangannya..

“ Piiimmm, piiimmm…, barade pim, Gaannn?”, suara menawarkan itulah yang tak dapat saya lupakan. Seperti rekaman suara kaset yang diputar berulang – ulang. Pim adalah sebutan urang Bandung untuk abu gosok, abu sisa pembakaran huut badag. Irama penawaran barang dagangan itu sangat saya kenal, meskipun dalam volume suara yang berbeda dibanding ketika 20 tahun yang lalu. Itu adalah suara mang Sacam, tukang abu gosok yang sudah berjalan dan berjualan abu gosok lebih dari seperempat abad. Ketika mang Sacam ditegur dan dihiap - hiap untuk singgah ke rumah, mang Sacam hanya tertegun dan culingak - culingek di luar. Saya mendekat dan menyapa untuk memastikan dan meyakinkan bahwa saya mengenal dan dikenal mang Sacam.

Ketika mendekat itulah saya baru tahu, ternyata mang Sacam tukang pim yang tua renta dan kundang iteuk itu sudah tidak bisa melihat lagi. Tetapi, Masya Allah sudah tidak melihat masih juga berjualan!

Saya menyuguhinya makan dan minum sama seperti yang orangtua saya lakukan dahulu. Saat itulah saya tanya mengapa ia masih berjualan? Tidakah ada anak – anaknya yang mengurusnya? Jawabannya membuat saya terhenyak,” Abdi mah icalan teh ku butuh, Cep, sanes butuh ku hasilna, barudak da tos barisa usaha, abdi butuh ku icalanna…”. Kalimat ini artinya saya berjualan ini karena kebutuhan, bukan oleh hasilnya –yang tentu saja tak seberapa-, anak-anak saya sudah mandiri, saya perlu karena berjualannya itu. Ya, mang Sacam ini “membutuhkan” pekerjaan itu, yang dengan pekerjaan itulah ia dihargai sebagai manusia terhormat. Dalam keadaan renta itu dia menghabiskan waktu hingga 2 hari untuk berjalan pulang dan pergi, terseok – seok, dan kadang – kadang tidur di mesjid, emperan toko atau pos ronda sebagai tempat berteduh sebelum sampai kembali ke rumahnya di kawasan Pakar sekarang.

Saat itu saya membeli pim abu gosoknya yang seharga Rp.50 satu takar. Tentu saja kami sebenarnya sudah tidak lagi menggunakan abu gosok.

Saya masih melihatnya bangun tertatih. Suaranya terdengar parau melemah, menawarkan barang dagangannya,” Piiimmm, piiimm…, barade pim, Gannnn?”
*

**ditulis selepas obrolan soal Kenangan Hidup bersama sahabat saya, Oom Somara de Uci, di Karya Waluya Institute, Kamis 20 Mei 2010.

No comments:

Post a Comment