Saturday, May 22, 2010

KAMPUNGKU MEMERAH Catatan Si Kabayan Majalengka: Oom Somara de Uci

KAMPUNGKU MEMERAH
Catatan Si Kabayan Majalengka: Oom Somara de Uci

dut badut-badut zaman sekarang/ mong ngomong-ngomong sembarang
di televisi/ di koran-koran/ di dalam radio/ diatas mimbar...
-kelompok Swami, Badut


Sewaktu saya diminta untuk menjadi host menyambut Amien Rais di Majalengka pertengahan bulan Maret 2010, saya diberi tahu bahwa beliau baru saja mengunjungi Cirebon. Maklumlah, beliau sedang roadshow untuk menguji comebacknya ke organisasi induk Muhammadiyah. Saya mengeluarkan joke sebagai pembuka,” Kalau tadi Mas Amien dari Cirebon pasti kepanasan kan?”. Amien Rais terdiam, lalu dengan tersenyum beliau mengangguk.

”Tahukah Mas Amien bahwa ada olok-olok tentang betapa panasnya Cirebon sekarang? Syahdan itu diakibatkan neraka bocor di sana...”. Tentu saja itu adalah sebuah anekdot yang memang di samping panas oleh suhu udara yang luar biasa juga diakibatkan Cirebon sempat ”mencapai titik didih” dengan tuntutan membentuk Provinsi baru yang konon ”dijanjikan” oleh pasangan cagub Heryawan-Dede Yusuf sewaktu menjadi kandidat. Klaim sejumlah kabupaten mendukung ide pembentukan provinsi itu juga sempat bikin gerah elemen trias politika di masing-masing kabupaten.

Anekdot itu belum berakhir. ”Namun jikapun iya neraka bocor di Cirebon, tetapi mengapa yang justru merah adalah Majalengka?”

Saat itu saya lihat Mas Amien tergelak.
*

”Merah itu lambang berani, Nak”, itu kata guru Sejarah saya di sekolah. Ia menjelaskan soal bendera kenegaraan kita. Tentu saja setelah menjelaskan putih yang suci. ”Kita sangat memerlukan keberanian untuk dapat membebaskan negeri ini dari belenggu penjajah, untuk dapat mencapai gerbang merdeka, tiket untuk tiba pada kesejahteraan, kemajuan dan kesetaraan seperti bangsa-bangsa yang lain di dunia”.

Itulah. Saya sendiri yang banyak juga menonton film-film perjuangan, semacam ”Kereta Api Terakhir”, ”Enam Jam di Jogja”, ”Janur Kuning” hingga film perang tak bermutu semacam ”Lebak Membara” atau ”Pangeran Samber Nyowo”, amat menghayati ritual mencium bendera merah putih sebelum pergi berperang. Betapa kesucian dan keberanian, terwakili secara sempurna dalam kibaran monumental bendera. Hal yang sama pula tercermin dalam film-film produksi Holywood semacam “The Killing Fields”, ”Platoon”, ”The Patriot” hingga yang terburuk semacam sekuel Rambo, sang “The Fisrt Blood”.

Hingga kinipun saya selalu terharu jika mendengar lagu kebangsaan “Syukur” dikumandangkan. Terkenang jasa para pahlawan yang gugur demi merah putih. Dulu, saya tak sanggup memegang bendera merah putih itu apalagi menciumnya, jika lagu “Syukur” dinyanyikan menjelang renungan dini hari.
*

“Merah itu verboden”, itu pesan lambang minus dalam marka rambu-rambu jalan raya. Verboden itu berasal dari Bahasa Belanda, kata peninggalan kolonial terlama. Orang kita di sini mengartikan itu sebagai tak ada jalan alias buntu. Namun kadang saat kita berkendaraan maka belum habis rasa penasaran akan larangan itu dengan cara melalui saja jalan itu, apalagi bila jalan itu adalah yang paling sering kita lalui. Baru setelah tahu, mungkin jembatannya putus atau bahkan ada yang mendirikan panggung hajatan, kita berbalik arah dengan masygul, kecewa.

Tapi lambang verboden itu memang arif. Berdiri di tengah jalan tanpa bicara. Anggun, tapi bikin kita senewen. Dia seolah bicara dengan dingin,” Dilarang Masuk!”

Itulah pula sebabnya istri kita yang sedang datang bulan juga bilang verboden. Jangan memaksa, kita pasti kecewa. Tapi jangan coba cari jalan lain, bersabarlah, itu hanya sementara.
*

Lha, lalu jika tembok, dinding hingga pagar kantor institusi hingga kecamatan, kelurahan, desa hingga sekolah dicat merah pertanda apa ya? Sulit sekali saya mendapatkan artinya. Rumah sakit yang selalu putih dan identik dengan lembut bersih kinipun dibalut warna merah. PDAM yang mendistribusikan air yang selama ini identik dengan lambang baku biru untuk citra bening bersih juga kini kental dengan balutan merah.

Keberaniankah yang ingin dimunculkan? Atau verboden?

Semua kantor kedinasan juga ramai-ramai mengecat kantornya dengan warna merah. Mustahil kalau kepala dinasnya tak tahu.

Entahlah. Saya mau nonton ”Avatar” James Cameroon sajalah !
*

Majalengka, 2010-03-27.

No comments:

Post a Comment