Sunday, May 23, 2010

BAHASA IBU Catatan Si Kabayan Majalengka, Oom Somara de Uci

BAHASA IBU
Catatan Si Kabayan Majalengka, Oom Somara de Uci




Nelengnengkung-nelengnengkung/Geura gede geura jangkung/Geura sakola ka Bandung/
Geura makayakeun indung

-kawih ayun ambing indung


21 Februari adalah Hari Bahasa Ibu Internasional. Tidak banyak yang tahu. Padahal ini ditetapkan oleh UNESCO, Sebuah badan milik PBB yang bertugas di bidang pendidikan dan kebudayaan. Hari Bahasa Ibu Internasional ini serentak diperingati di seluruh dunia, sebuah perhelatan yang digagas oleh keprihatinan terhadap ancaman musnahnya beberapa bahasa ibu (mother tounge) di seluruh belahan bumi. UNESCO memiliki prediksi “kematian” terhadap beberapa bahasa ibu dalam seratus tahun ke depan terutama di belahan benua Afrika dan Asia. Bahasa Ibu yang menjadi bahasa mula-mula sebelum berkenalan dengan bahasa kedua (second language) tertatih-tatih menghadapi gempuran arus dunia atau globalisasi.

Jika anda pernah menonton film kontroversial “The God Must Be Crazy” yang dibintangi aktor lokal Nix Xau, anda akan menemukan percakapan “beletak-beletuk” yang memancing tawa. Tapi itu adalah salah satu bahasa ibu Timbuktu, pedalaman Afrika, yang memang sangat sedikit penuturnya. Film yang mengisahkan jatuhnya botol Coca Cola dari “langit” itu menunjukan betapa kontrasnya peradaban antara dunia yang maju di satu pihak dengan masyarakat miskin di pihak lain. Sekaligus tanpa sengaja telah memotret “kesepian” masyarakat pengguna bahasa ibu dalam konteks kemoderenan.

Di Jawa Barat sendiri yang mayoritas berbahasa ibu Sunda, pemakainya dari waktu ke waktu semakin berkurang. Penggunaan bahasa Sunda dalam level keseharian sudah berada pada taraf menyedihkan. Banyak orang tua yang secara sengaja menggantikan penggunaan bahasa sehari-harinya dengan berbahasa Indonesia walaupun secara struktur masih menggunakan struktur bahasa Sunda. Harapan terakhir untuk bisa berbahasa Sunda adalah di sekolah. Namun kadangkala harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Bahkan sekarang ini muncul tuntutan dari Kota dan Kabupaten Cirebon agar secara formal mengganti bahasa Sunda yang menjadi muatan lokal dengan bahasa Cirebon. Begitu pula pada sebagian Daerah di Indramayu. Kecuali Haur Geulis dan Lelea, bahasa Sunda sebagai pelajaran yang diwajibkan di SD, SMP memang terasa memberatkan. Hal yang sama juga terjadi di Bekasi yang lebih banyak menggunakan bahasa Melayu-Betawi dibanding berbahasa Sunda.

Untuk kasus Majalengka, wilayah pakaleran semacam Ligung dan Jatitujuh juga mengalami hal yang sama. Di sini bahasa Sunda “berseliweran” dengan bahasa Jawa. Giling-gisik dan bahkan nyaris “ruket”. Hingga tidak jarang ditemukan ada penutur atau pengguna yang mampu berbicara baik dalam bahasa Sunda maupun bahasa Jawa. Begitu pula yang terjadi di wilayah Bongas, Panjalin dan sekitarnya di kecamatan Sumberjaya.

Yang lebih unik adalah apa yang terjadi di wilayah Leuwimunding, tepatnya di desa Patuanan. Disini masyarakatnya berbahasa Jawa, sehingga muncul istilah “Jawa Tengah”, artinya berbahasa Jawa di tengah-tengah komunitas masyarakat yang berbahasa Sunda. Kuat dugaan bahwa bahasa Jawa masyarakat desa Patuanan ini sebagai warisan pelarian tentara Mataram pada masa Sultan Agung ketika menggempur Batavia. Inilah pula cikal bakal dari nama desa itu sendiri yang mendapat tempat kehormatan oleh masyarakat sekitarnya.

Berkaitan dengan upaya pelestarian Bahasa Ibu, terlebih khususnya lagi adalah Bahasa Sunda, sesungguhnya sudah ada Perda yang mengatur tentang hal ini. Perda yang dimaksud adalah Perda No.6/1996 yang kemudian diikuti oleh Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat no.434/SK.614-Dis.PK/99. Perda dan Surat Keputusan Gubernur ini berlatar belakang Keputusan Presiden no.082/B/1991. Kini Perda no 6 itu diperkuat lagi dengan Perda no.5/2003 mengenai Miara Basa, Sastra jeung Aksara Sunda. Dalam hal ini diperlukan upaya yang sungguh-sungguh untuk memelihara, memupuk dan menumbuhkembangkannya dari berbagai pihak baik itu birokrat, para akademisi hingga pun masyarakat pada umumnya.

Pada sisi inilah maka kita menganggap betapa pentingnya peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional itu.

*
Penulis adalah Direktur Pustaka Kemucen, Rajagaluh-Majalengka

No comments:

Post a Comment