Wednesday, March 17, 2010

Soedjatmoko, Filsafat Sejarah dan Kesadaran Sejarah Draft Buku Oom Somara de Uci

Kebanggaan Menjadi Mahasiswa Sejarah dan Kekaguman Kepada Soedjatmoko
Sebagai Pengantar


Terus terang, ketika saya pertama kali menjejakan kaki di Jakarta, untuk menimba ilmu sebagai mahasiswa jurusan Pendidikan Sejarah di IKIP Jakarta, hati saya diliputi perasaan yang sulit saya gambarkan. Alangkah bangganya, orang dari kampung yang bisa menempuh pendidikan di perguruan tinggi negeri, tentu bukanlah prestasi biasa. Anak bangsa, gitu lho!
Namun tak semudah dibayangkan, kota Jakarta memang tak ramah untuk pendatang, sekalipun menjadi mahasiswa. Orang kampung seperti saya ini yang diantar kakak, dengan pikiran bahwa dia mengenal Jakarta, satu tas perbekalan saya hilang diatas bis PPD 44 jurusan Pulogadung-Cililitan yang melintas jalan Pemuda, Rawamangun, lokasi tempat kampus itu berada. Kota ini telah menampar saya dengan kekejaman yang pertama.

Abstrak

Buku ini berupaya untuk dapat merekonstruksi hasil pemikiran Soedjatmoko tentang kesadaran sejarah di Indonesia. Rekonstruksi pemikiran ini menurut Crane Brinton dapat dimasukan ke dalam sistematika disiplin ilmu sejarah kategori sejarah intelektual. Di dalam kategori ini mencoba mengurai dan mengembangkan fakta tentang siapa, menulis apa dan bilamana serta dalam bentuk apa hasil pemikirannya itu dipublikasikan. Pada persyaratan yang diajukan Brinton ini pemikiran Soedjatmoko sangat memenuhi syarat untuk diteliti.
Soedjatmoko sebagai intelektual bebas banyak menulis wacana tentang berbagai hal berkaitan dengan perjalan bangsa Indonesia ke depan. Hasil tulisan itu telah pula dipresentasikan dalam forum-forum ilmiah baik di Indonesia maupun forum-forum internasional.
Kesadaran sejarah menurut Soedjatmoko adalah kegairahan untuk mengerti kembali akan situasi, arus waktu, mengapa sesuatu hal bisa terjadi di masa lalu atau mengapa itu tidak terjadi. Kegairahan ini akan menjadikan tantangan untuk bisa dan mampu menghadapi masa depan dengan menjadi pelaku, menjadi penentu masa depannya sendiri.
Kesadaran sejarah mempermatang manusia dalam hubungannya dengan kenyataan, menjadikannya tantangan untuk mampu menguasai nasib. Dengan kesadaran sejarah manusia menjadi merdeka, bebas dan mengerti persoalan yang dihadapi dalam kekinian sehingga bisa mengantisipasi masa yang akan datang dengan kreatif, yakni dengan menyadari porsi dan potensi kemanusiaannya sebagai pembuat sejarah.
Sejatinya, kesadaran sejarah ini sangat penting, dan karenanya diperlukan, terlebih bagi bangsa Indonesia sekarang ini.

Dari Sejarah ke Soedjatmoko

Sejarah sebagai laboratorium

Sejarah adalah layaknya laboratorium bagi ilmu-ilmu sosial. Diyakini bahwa dengan sejarah dan dalam sejarahlah seluruh variabel kehidupan sosial manusia tercakup dan ditemukan. Hingga tidak heran muncul ungkapan yang dicetuskan oleh mantan presiden Soekarno yang flamboyan itu,” Jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Jargon itu setidaknya menunjukan betapa pentingnya sesuatu yang disebut dengan sejarah.
Para ahli yang menggumuli sejarah senantiasa berupaya untuk mengetahui serta memahami sebuah peristiwa atau sebuah kejadian meliputi kapan hal itu terjadi, bagaimana hal itu terjadi, apa yang sesungguhnya terjadi serta mengapa hal itu bisa terjadi. Dan itu ternyata berlaku pula pada hampir semua orang, bukan saja berlaku untuk para ahli sejarah-, walaupun hanya untuk sekedar memenuhi rasa ingin tahu.
Tentu saja pertanyaan-pertanyaan itu dalam berbagai sudut pandang akan dapat berlain-lainan satu sama lain, dalam hal jawaban-jawaban yang ditemukan dan dikemukakan oleh para ahli tersebut. Kadang-kadang muncul kontroversi yang bagi sejarah yang memiliki kekhasan maka hal tersebut adalah sangat mungkin, tergantung bagaimana seorang ahli menafsirkan sebuah peristiwa.
Perbedaan penafsiran, yang tak terhindarkan, seperti itu adalah lazim. Karena layaknya seorang spesialis, ahli sejarah, memiliki kecenderungan untuk melihat persoalan secara sempit. Seorang spesialis biasa terkurung dalam lingkaran kajiannya.

Fragmen 1: Tarzan in Manhattan
Kepolisian kota Manhattan suatu hari menangkap seorang lelaki tampan dan tegap namun berpakaian aneh yang dianggap mengganggu kenyamanan kota. Karena tak bisa menjelaskan siapa dirinya, lelaki itu lalu dimasukan ke dalam sel penjara tinggi di kota itu. Tidak terima dengan perlakuan itu menjelang tengah malam lelaki aneh itu dengan kekuatannya mampu memelengkungkan jeruji penjara dan dengan heroik mengucapkan “Auo…” iapun melompat ke sungai yang mengalir di sekeliling bawah bangunan penjara. Para sipir penjara yang memeriksa tempat lelaki itu hanya berkomentar pendek,” Hilang satu jatah makan malam”
“Tapi kenapa ia berteriak ‘auo’?” tanya sipir lain.
“Mudah saja, friend”, kata temannya,” Kaupun akan berteriak yang sama jika melompat dari ketinggian 300 meter…”
“Ya tapi bagiku mengherankan sedewasa dia hanya mampu belajar tiga huruf saja, menyedihkan”

Soedjatmoko Sebagai Cendekiawan Bebas
Soedjatmoko adalah seorang cendekiawan bebas yang tidak terikat oleh salah satu disiplin ilmu. Ia adalah cendekiawan “Pelintas Batas”, karena kemampuannya melintas sekat-sekat aneka disiplin ilmu, termasuk disiplin ilmu sejarah. Kemampuannya mengambil jarak memungkinkan dirinya untuk dapat dengan bebas menulis tentang obyek kajian tanpa terjebak atau terikat oleh obyek kajiannya itu.
Hasil pemikiran Soedjatmoko ini perlu direkonstruksi. Menurut Crane Brinton ( Gramedia, 1985: h.205-209 ) upaya merekonstruksi pemikiran ini dapat dimasukan dalam sistematika disiplin ilmu sejarah kategori sejarah intelektual yang mencoba mengembangkan fakta tentang siapa menulis apa dan bilamana serta dalam bentuk apa hasil pemikirannya itu dipublikasikan.
Pada persyaratan yang diajukan oleh Brinton ini pemikiran Soedjatmoko sangat memenuhi syarat untuk dilacak dan diteliti. Upaya ini kemudian menjadi sangat mendesak dikarenakan tema tentang sejarah intelektual di Indonesia, khususnya di perguruan tinggi, masih sangat kurang. Nama Soedjatmoko dapat dikatakan tidak ada atau sebutlah belum ada dalam lajur referensi sebagai kontributor pemikiran kesejarahan kita secara umum.

Beragamnya Pemikiran Soedjatmoko

Sebagai cendekiawan “Pelintas Batas” tentu saja pemikiran Soedjatmoko sangat beragam. Tema-tema pemikirannya meliputi ilmu, pendidikan, kebudayaan, agama, sejarah dan pembangunan. Tema-tema pemikirannya masih sangat terbuka untuk dikaji dan diteliti lebih mendalam.
Berikut ini akan dipaparkan secara ringkas tema-tema pemikirannya sebagai berikut:

Bidang Ilmu dan Pendidikan

Soedjatmoko menegaskan pentingnya ilmu dan pendidikan diperhatikan untuk kemudian mampu menghasilkan manusia Indonesia yang berkualitas. Yang disebut manusia berkualitas adalah yang memiliki dengan sadar disiplin ilmiah, kritis dan mampu menganalisis serta menyusun teori dengan tetap menjaga kejernihan serta kejujuran dan keberanian ilmiah.
Perhatian Soedjatmoko terhadap lembaga pendidikan tidak hanya terbatas pada tingkat perguruan tinggi, tetapi meliputi pendidikan dasar dan menengah, yang dianggapnya sangat berperanan untuk dicermati karena kualitas ilmiah bangsa sebagian penting tergantung dari tanggapan jiwa yang ditanam dan dipupuk pada tingkat dasar dan menengah.
Beberapa uraian pemikirannya tentang ilmu dan pendidikan terdapat dalam wacana berikut ini:
1. Peranan Intelektual di Negara Berkembang (1970)
2. Beberapa Pemikiran Tentang Perguruan Tinggi (1975)
3. Pengaruh Pendidikan Agama Terhadap Kehidupan Sosial (1976)
4. Etik dalam Perumusan Strategi Penelitian Ilmu Sosial (1977)
5. Analisa Kebijaksanaan dan Perkembangan Ilmu-ilmu Sosial di Indonesia (1976)
6. Daya Cipta sebagai Unsur Mutlak dalam Pembangunan; Konsepsi dan Institusionalisasi (1961)
7. Sistem Nilai dan Pendidikan tentang Lingkungan Hidup (1973)
8. Model Kebutuhan Dasar: Implikasinya dalam Kebijaksanaan Nasional (1978)

Bidang Kebudayaan

Pemikiran Soedjatmoko tentang kebudayaan meliputi kedinamisan kebudayaan yang memiliki daya pendorong dan daya penentang perubahannya yang wujud dialektikanya akan menunjukkan vitalitas dan pribadi bangsa serta kebudayaannya.
Politik dan ekonomi juga tak bisa dilepaskan dari permasalahan kebudayaan karena keduanya sering menampakan diri dalam wujud budaya dan berpengaruh dalam mengarahkannya.
Wacana pemikirannya tentang kebudayaan diantaranya terdapat dalam:
1. Mengapa Konfrontasi (1954)
2. Merintis Hari Depan (1957)
3. Kebudayaan Nasional dan Mobilisasi Mental (1960)
4. Menjelang Suatu Politik Kebudayaan (1972)
5. Bahasa Indonesia dalam Perjuangan Bangsa (1978)
6. Teknologi, Pembangunan dan Kebudayaan (1972)
7. Dimensi-dimesi Struktural Kemiskinan (1980)

Bidang Agama

Pemikiran Soedjatmoko tentang Agama sama seperti perhatiannya terhadap ilmu, pendidikan dan kebudayaan. Agama dipandang berkait erat dengan berbagai persoalan hidup. Bagi Soedjatmoko, Agama bertanggungjawab terhapa efek perkembangan ilmu dan teknologi yang tidak selalu positif bahkan sering membawa malapetaka bagi manusia.
Soedjamoko sangat yakin bahwa pendidikan agama akan dapat menumbuhkan fungsi iman yang perwujudannya dalam bentuk amal. Inilah yang pada gilirannya nanti mendorong untuk ikut terjun dan berperan sangat penting dalam pembangunan bangsa.
Beberapa pemikirannya tentang Agama diantaranya terdapat dalam wacana:
1. Pandangan dari Luar dan Pandangan dari Dalam: Dorongan untuk Maju (1965)
2. Sukma dan Masyarakat: Sebuah Tafsiran Timur tentang Counter Culture (1969)
3. Agama dan Proses Pembangunan di Asia (1970)
4. Perubahan dalam Dialog antar Agama dan Ilmu (1974)
5. Iman dan Pembangunan (1975)
6. Perdamaian dan Martabat (1976)

Bidang Pembangunan

Dalam bidang Pembangunan, Soedjatmoko memaparkan bahwa pembangunan bangsa bukan semata ekonomi, tetapi integral di segala bidang. Titik sentralnya tentang hal ini adalah manusia dan daya kreatifnya dalam usaha pembangunan. Prosesi dan tujuan akhir dari pembangunan haruslah kebahagiaan dan kebebasan manusia serta hak pribadinya, tidak hanya sekedar sisi material semata-mata.
Pemikiran Soedjatmoko tentang Pembangunan selain terurai dalam 4 bidang di atas, juga terdapat dalam wacana berikut ini:
1. Pembangunan Ekonomi sebagai Masalah Kebudayaan (1954)
2. Kesadaran Sejarah dan Pembangunan (1976)
3. Futurologi dan Kita: Suatu Uraian Pengantar (1975)
4. Sistem Politik dan Pembangunan dalam Agenda Penelitian Asia: Sebuah Renungan (1980)
5. Pembangunan dan Hak-hak Manusia (1979)
6. Pembangunan dan Pertumbuhan Manusia (1979)

1 comment:

  1. Kapan terbit? Alamat Oom penulis buku ini dimana?

    ReplyDelete