Sunday, March 7, 2010

Menuju Ke Arah Kehidupan Beragama Yang Baik Percik Pemikiran

Oleh: Jayadi


Ketika saya berusia 16 tahun, saat itu saya tinggal di Bogor, saya pernah meninggalkan solat Jumat. Hal itu terjadi karena khotib yang berkhutbah pada kesempatan itu menggunakan bahasa Arab. Bagi saya, -yang tidak mengerti bahasa Arab dan menginginkan isi khutbah yang bukan saja cerdas berisi tapi juga dipahami dan dimengerti-, kondisi itu melecehkan dan jauh dari anjuran beragama dimana salah satunya adalah perintah untuk menyampaikan dengan bahasa kaum yang mudah dipahami.

Tetapi nampaknya hal seperti memang terjadi umum, merata pada hampir belahan bumi Nusantara. Khutbah disampaikan dengan bahasa Arab dengan jamaah yang tidak kunjung mengerti sekaligus memahami tentang Islam. Bagi saya, materi yang disampaikan dengan bahasa Arab itu benar-benar upaya pembodohan umat dan sekaligus berangkat dari ketololan orang-orang yang mengaku pengusung agama. Ini masih sangat jauh dari ungkapan bahwa Islam adalah “rahmatan lil alamin”. Berkah bagi seluruh alam.
Dugaan saya paling tidak ketika saya remaja menemukan pembenaran. Ada beberapa pesantren di sekitar saya tinggal itu, para santrinya memenuhi apa yang menjadi asumsi dan stigma orang: kampungan, kekurangan makan dan budug. Sementara kiayinya punya banyak sawah, hidup dari pemberian orang dan banyak istri. Banyak istri juga menjadi unik manakala bukan hanya kiayinya yang begitu lekohnya mengutip ayat dan hadist Nabi tentang kemuliaan mengawini lebih dari satu istri namun juga dibarengi oleh kesadaran masyarakat sekitarnya untuk “sami’na wa ato’na”, membenarkan dan taat saja apa yang dikatakan dan dilakukan kiayi sebagai tokoh kharismatik.
Para santrinya melakukan kegiatan MCK dalam kolam yang sama. Hal yang menurut standar kesehatan manapun tidak dibenarkan. Dari sinilah budug dan penyakit kulit lainnya menular. Merekapun tidur bersama dalam satu kobong, di setiap kobong ada yang dituakan, seniornya. Tempat seperti ini sangat rentan terhadap bukan saja pelecehan namun sudah menjurus pada kejahatan seksual, misalnya sodomi. Dan ketika jam makan tiba, mereka juga makan dari satu tempat yang sama; mereka makan diatas tempayan besar untuk kemudian satu tempayan dipakai oleh 5-7 santri dengan posisi makan jongkok.
“Kebersamaan”, demikian ada yang berpendapat begitu. Tak ada beda kaya – melarat, untung - papa. Bahkan ada yang menyebut,”Sunah Nabi”. Masya Allah.
Islam yang rahmatan lil alamin itu belum berwujud nyatanya. Agama yang sering diengung-dengungkan sebagai paling sempurna ini rupanya kedodoran pada tingkat aflikasi.
Saya sering pula melihat beberapa perintah kebajikan dalam Islam ini direduksi para pemimpin dan penganjur agama menjadi penghapusan dosa. Seolah-olah umat Islam ini banyak berhubungan dan bergelimang dosa sehingga wajib dan harus menghapusnya. Contohnya puasa Senin Kamis, puasa Sura, puasa 8-9 Dzulhijah, bahkan pun puasa Ramadhan. Juga kewajiban solat, baik wajib maupun sunah yang berbilang rakaatnya. Juga zakat, baik zakat fitrah maupun zakat mal. Alih-alih ibadah Hajipun, adalah juga untuk menghapus dosa. Kapan umat Islam ini akan berpartisipasi dalam pembangunan? Kapan umat Islam ini disadarkan pada kehidupan bermasyarakat yang sesungguhnya jika terus menerus dininabobokan dengan hal-hal seperti ini?
Cobalah mengkaji kasus seperti illustrasi berikut ini: Jika anda dianggap muslim yang baik maka anda harus senantiasa solat berjamaah dan hadir tepat waktu di masjid, bagaimanapun keadaan anda. Anda juga malamnya harus banyak melakukan solat tahajud. Membaca alqur-an sekaligus menghapalnya. Ada beberapa surat tertentu yang harus anda baca setiap hari; Yasiin, al mulk, duha hinggapun falak binas. Anda juga harus rajin solat duha, solat sunat yang dilakukan siang hari. Pakaian anda harus koko, sebagian masyarakat meyakini itu,-karena menurut saja ketika dicekoki ustadnya-, bahwa itu adalah baju taqwa. Anda juga harus banyak mengingat nama Tuhan, biasanya harus dibuktikan dengan kemampuan wirid dan menghitungnya dengan biji tasbih. Kefasihan menghapal 99 nama Tuhan sama dihormati dengan kemampuan menghapal surat-surat apalagi semuanya. Jika tiba bulan puasa, anda harus berpuasa siang harinya dan beribadah sepanjang malamnya, karena siapa tahu usia anda tidak sampai pada bulan puasa berikutnya yang penuh berkah itu. Di luar itu anda juga harus menjaga puasa sunat yang ada pada setiap keistimewaan bulan dan hari-harinya.
Alangkah beratnya ritus harian itu, sekaligus betapa tololnya jika memang itu benar-benar anda lakukan. Itulah ibadahnya kindergarten, anak-anak TK.
Itu baru yang terjadi pada level dasar. Belum lagi ketika dihadapkan pada pluralisme agama. Jangan lupa, negara kita mengakui agama lain di luar Islam dan itu dilindungi oleh Undang-undang Dasar 1945. Kesadaran ini penting untuk kemudian sama-sama memahami bahwa kita ini bukan negara agama, namun kebebasan beragama telah diatur.
Saya sangat hormat pada Abdurrahman Wahid yang secara tegas menyatakan bahwa kita ini negara nasional, bukan negara Islam. Penerapan syariat itu hanya mimpi di siang bolong. Agama itu adalah untuk diyakini, bukan untuk dipaksakan, apalagi untuk orang lain sampai memaksa negara mengakomodirnya.
Alangkah banyaknya Pekerjaan Rumah kita. Sejarah telah banyak mencatat bahwa persoalan agama, baik intern maupun eksternnya telah banyak menguras pikiran dan tenaga yang sia-sia. Dibutuhkan kecerdasan dan kearifan serta upaya yang sungguh-sungguh untuk sampai pada kehidupan beragama yang baik. Di sanalah kejayaan suatu bangsa terwujudkan sesuai amanat konstitusi.
Semoga!

No comments:

Post a Comment