Saturday, March 20, 2010

DRAMA Pendidikan: KASIH IBU BUKAN KASIH SEPENGGALAH, OOM SOMARA DE UCI

KASIH IBU
BUKAN KASIH SEPENGGALAH
SEBUAH DRAMA




OOM SOMARA de UCI











Naskah Drama


SURAT PERNYATAAN KARYA ASLI

Bismillahirohmanirohim,
Saya yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan bahwa Naskah Drama yang berjudul, “KASIH IBU BUKAN KASIH SEPENGGALAH”, adalah merupakan karya asli, tidak berseri, belum pernah menjadi pemenang sebagian maupun seluruhnya dalam sayembara mana pun, tidak sedang disertakan pada sayembara lain dan belum pernah diterbitkan.
Demikian Surat Pernyataan Karya Asli ini dibuat.

Rajagaluh, 2 Mei 2009
Yang membuat pernyataan,


Oom Somara de Uci



PENGANTAR

Drama yang berjudul “Kasih Ibu Bukan Kasih Sepenggalah” ini adalah sebuah naskah lakon yang diperuntukkan buat anak-anak. Naskah ini ditulis karena menyadari bahwa buku drama masih sangat kurang, walaupun bukan berarti tak ada. Naskah drama yang memungkinkan untuk dipentaskan oleh begitu banyak pemain bisa disebut langka. Untuk itulah maka naskah ini ditulis.
Ada banyak bagian yang bisa disesuaikan dengan keberagaman adat dan tradisi setempat, termasuk bagaimana “gaya berucap” suatu daerah. Segmen Dalang dan Tukang Koran misalnya, sangat terbuka untuk dimainkan dengan latar kebiasaan setempat. Penambahan Bab Intermezo diharapkan dapat menambah unsur tragika puitis sekaligus penguatan terhadap pesan-pesan yang ingin disampaikan melalui drama ini. Bagian ini juga terbuka untuk seluas-luasnya muncul improvisasi dan aneka atraksi dari berbagai bakat anak. Kehadiran tokoh penyanyi dan penyairnya hanyalah sebagai contoh saja.
Tentulah masih banyak kekurangan dari naskah ini. Namun semoga dapat memperkaya khazanah bacaan bagi anak-anak kita, khususnya bidang drama.

Rajagaluh, 2 Mei 2009

OSdu


PARA PELAKU


Ibu Fatimah
Lilis
Dodo
Kiki
Eva
Vera
Tio
Billy
Pak Ustad
Tukang Koran
Dalang
Penyanyi
Penyair

(Seluruh pelaku yang tidak muncul ke panggung beralih ke grup)





BABAK I

(Panggung dibiarkan kosong. Perlahan muncul Tukang Koran dengan bawaan koran yang masih numpuk…)

Tukang Koran : Koran, koran, koran, berita hangat!
Koran, koran, koran, berita hangat koalisi!
Koran, koran, koran, elit-elit politik sibuk cari posisi!
Koran, koran, koraaan!
Grup : Jualan apa sih, Bang?
Tukang Koran : Koran, Neng.
Grup : Koran?
Tukang Koran : Iya, Neng, koran – surat kabar – newspaper
Grup : Dijual, Bang?
Tukang Koran : Dijemur! (marah)
Ya dijual dong (ngomel)
Emangnya asinan dijemur….
Grup : Deuh, segitu aja marah
Tukang Koran : Ya iyalah (marah)
Masa ya iya dong
Namanya koran ya dijual-lah!
Grup : Laku, Bang?
Tukang Koran : Nggak lihat apa, barang bertumpuk begini. Kalau nanya kira-kira dong, jangan buat orang tersinggung!
Grup : Eh, Bang. Lagian berita koran-koran sudah disunat
Tukang Koran : Disunat? Seperti si Ujang? (pura-pura pegang celana)
Aih, ngeri ah!
Grup : Iya, Bang. Makanya orang sekarang lihatnya internet
Tukang Koran : Internet? (sambil beres-beres koran)
Internet, Indomie Telor Kornet? (lari, mau keluar panggung)
Grup : Hu…!
Tukang Koran : (mendekat) Habis apa dong?
Eh, tahu nggak, kalau ngomong bahasa susah sama orang kecil sampai nggak tahu artinya itu sama dengan mubadzir (berkacak pinggang)
Pemborosan! Buang-buang energi! Pembodohan alias…. (manyun)
Emmubadzzziiiir!
Grup : Hu…!

(Masuk Dalang. Membawa buku besar dan pena raksasa)
Dalang : Stop, stop, stop!
Apanya yang mubazir, hm?
Tukang Koran : (terkejut) Eeh, Bapak Dalang (mundur-mundur)
Maaf Pak, saya kira, saya kira….
Dalang : Apa saya kira? (membetulkan kacamata, jaga wibawa)
Tukang Koran : Saya kira, saya kira…calon presiden!
Dalang : (marah) Sembarangan!
Tukang Koran : Aduh, maaf, maaf…I’am sorry, sir!
Dalang : Walah, kamu Tukang Koran, bisa bahasa Inggris, hebat, hebat!
Tukang Koran : Sayah tea atuh!
Dalang : Iyalah, tapi kamu minggir dulu, sebab ini mau main drama
Tukang Koran : Leuh, ini teh mau drama? (memanjangkan kepala ke depan)
Dalang : Iya ini teh mau drama (terbawa logat si Tukang Koran)
Tapi belum mulai, keburu ada kamu. Eh, malah dagang koran di sini!
Tukang Koran : Duh, saya mah dagang di mana-mana salah terus (ngomel)
Di terminal salah, di jalan raya salah. Memang susah jadi orang kecil, sudah suaranya lebih banyak tidak didengar kebagian salah melulu….
Dalang : Eh, jangan ngomel di sini atuh!
Tukang Koran : Jadi harus di mana saya ngomel?
Dalang : Ke sana tuh, ke gedung Dewan Perwakilan Rakyat!
Tukang Koran : Weh, saya mah kemarin ikut caleg, gagal!
Dalang : Aih? Kamu ini caleg? Calon Legislatif?
Tukang Koran : (Angkat dada) He, jangan salah…, begini-begini juga caleg! Sayah tea atuh!
Dalang : Kok bisa?
Tukang Koran : Kok bisa? Ya bisa lah, masa nggak bisa dong! (berlagak pejabat dengan cara melipat tangan di dada)
Zaman sekarang Reformasi. Semua orang punya hak yang sama, kaya ataupun miskin, tua ataupun muda, tinggal di kota maupun di pelosok desa (mengepalkan tangan)
Ada mantan pejabat, pensiunan, aktivis LSM, aktivis kampus, ulama, kiayi, ustad, orang partay, pengusaha, pengangguran, pengamen, sampai saya yang tukang koran! Semua main! Semua mau jadi pemimpin!
Reformasi, Bung. Reformasi!
Perubahan, Bung. Perubahan!
Dalang : Wah, wah, wah, keren. Ke parlemen dong?
Tukang Koran : Itulah, makanya saya di sini….
Dalang : Ya, kenapa di sini?
Tukang Koran : Ya, karena gagal lah. Susahnya untuk mendapatkan satu kursi.
Dalang : Beruntung kamu ada di sini!
Tukang Koran : Hah? Beruntung? (berputar-putar mengelilingi Dalang)
Saya beruntung ada di sini?
Dalang : (setelah puas mengangguk) Ya, kamu beruntung ada di sini….
Tukang Koran : Kenapa?
Dalang : Karena yang lain ada di Rumah Sakit Jiwa!
Tukang Koran : (terduduk di lantai) Oh, malangnya nasib….
Dalang : Ya, kadang-kadang orang memang lupa untuk bersyukur. Selalu menganggap dirinya sebagai orang yang malang, orang yang tidak beruntung. Lupa bahwa Tuhan telah memberikan kepada kita segala yang terbaik. Terbaik pada hidup kita, terbaik bagi masa depan kita. Kita selalu lupa bahwa Tuhan selalu menginginkan agar kita menjadi yang terbaik, yang terhebat, yang akan selalu menjadi suri teladan bagi kehidupan yang lain.
Tukang Koran : Jadi, saya menjadi kembali semata Tukang Koran juga masih terbaik?
Dalang : Ya, terbaik
Tukang Koran : Masih beruntung?
Dalang : Ya, beruntung
Tukang Koran : Harus bersyukur?
Dalang : Ya, bersyukur. Coba kamu perhatikan berita-berita dari koran-koran yang kamu jual itu. Sebagian malah stress, masuk Rumah Sakit Jiwa atau bahkan memilih mati bunuh diri!
Tukang Koran : Astaga!
Dalang : Nah, itulah kawan, kau kembali menjadi Tukang Koran adalah berkah. Menjadi kembali riang adalah berkah. Pantang mengeluh. Terimalah hidup ini dengan berkah. Supaya tetap menjadi berkah. Itu tandanya kita bertawakal.
Tukang Koran : Ya, ya, ya, mengerti saya sekarang. Hidup Bapak Dalang!
(Kembali membereskan koran. Lalu ngomong sendiri)
Iyalah, bersyukur, daripada masuk Rumah Sakit Jiwa. Atau ngomong sendiri seperti orang gila, sudah nggak ingat siapa dirinya, ngaco saja. Atau tiba-tiba ketawa sendiri, hihihi…. Hahahaha…. padahal nggak ada yang lucu, ketawa saja sendiri, dasar orang gila. Disangkanya ada yang lucu. Atau dia mengira dirinya orang sukses, bergaya pakai sepatu pakai dasi pakai jas, padahal tidak berpakaian, dasar orang gila.
(Terus nyerocos. Sesekali memeragakan orang yang dia ceritakan. Sampai keluar dari panggung dan lupa berpamitan pada Dalang)
Malah, hihihi… tidak sedikit yang tadinya betul-betul pernah menjabat, dikiranya masih menjabat, sok pamer tanda tangan. Hahahaha… dikiranya sedang menandatangani proyek besar, padahal pegang pulpen juga nggak. Asal tret-tret-tret jadilah uang!
Dalang : (Sambil melihat saja pada Tukang Koran) Dunia, serasa mau kiamat saja rupanya
(Kembali menekur buku dan pena raksasa)
Orang memang sering mudah sekali lupa!
Grup : Hoyah!
Dalang : Eh, lupa eh lupa eh lupa!
Grup : Nah, ketahuan malah melamun!
Dalang : Wuah, ya nggak lah ya! (kembali membuka-buka halaman buku raksasanya)
Kita pada hari ini mau nonton drama
Grup : Drama?
Dalang : Ya, drama yang berjudul “Kasih Ibu Bukan Kasih Sepenggalah”, yang akan berkisah kepada kita tentang betapa luas dan agungnya kasih sayang seorang ibu pada anak-anaknya. Sayangnya, kita sebagai anak-anaknya sering lupa. Kita sebagai anak-anaknya sering mengabaikan nasehat-nasehatnya.
Bukankah ada pula kearifan lokal kita yang berbicara tentang kasih Ibu? Ya, ya, ya, kearifan lokal itu berujar bahwa, “Kasih Ibu Sepanjang Jalan, Kasih Anak Sepanjang Penggalah”.
Hadirin yang terhormat, malam ini kita akan sama-sama menyaksikan pergelaran drama dengan judul, “Kasih Ibu Bukan Kasih Sepenggalah”
Selamat menyaksikan!
(Di panggung nampak sebuah kursi, sebuah meja dengan taplak yang agak tua serta sebuah pot bunga kecil)
(Masuk Ibu Fatimah dengan syal melilit di lehernya)
Ibu Fat : (Batuk-batuk) Ya Allah kenapa sakit saya ini tak kunjung sembuh….
Lis, Lilis, oh, kemana si bungsu itu? (memegang kursi)
Oh, tentu anak itu sedang mengaji ke Al-Kautsar, Alhamdulillah (duduk di kursi)
Puji syukur ke hadirat-Mu ya Allah, semoga Engkau senantiasa melindungi anak-anakku. Hanya atas pertolongan-Mu semata hingga aku bisa membesarkan anak-anakku
(Dari luar terdengar pintu diketuk)
Lilis : Assalamu’ alaikum
Ibu Fat : Wa’alaikum salam (Lilis mencium tangan ibunya)
Sudah pulang, Nak?
Lilis : Iya, Bu (memandang wajah ibunya)
Oh ya, tadi Pak Ustad titip salam
Ibu Fat : Wa’alaikum salam
Lilis : Beliau bertanya tentang kesehatan Ibu dan mendo’akan semoga Ibu lekas sembuh
Ibu Fat : Alhamdulillah, baik benar gurumu, Lis
Orang baik memang selalu mendo’akan yang baik-baik
Lilis : (Menyimpan kitab di atas meja) Insya Allah besok lusa beliau mau berkunjung ke sini, mau nengok ibu
Ibu Fat : Oh, kok jadi merepotkan gurumu, Lis (Batuk-batuk)
Hm …. Siapa nama guru ngajimu itu, Lis?
Lilis : Pak Ahmad, Bu (memijiti punggung ibunya)
Ustad Ahmad. Beliau dari Sumberjaya, Majalengka
Ibu Fat : Istrinya?
Lilis : Duda, Bu (tersenyum)
Ibu Fat : Oh….
Lilies : Ibu berminat?
Ibu Fat : Ah, (tertawa) kamu ini ada-ada saja, Lis
Lilies : Eh, betul kok bu
Ibu Fat : Hus! Sudah, sudah! Kamu ini jadi ngelantur (batuk-batuk)
Ibumu ini sudah tua, Lis. Sudah tidak muda lagi….
Lilis : Tapi ‘kan masih cantik, Bu
Grup : Deuh….
Ibu Fat : Kamu ini tahu apa, Lis (batuk)
Ambilkan Ibu minum
(Lilis mengambil gelas minum)
Hm … kapan gurumu itu, eh siapa namanya?
Lilies : Ustad Ahmad, Bu
Ibu Fat : Iya, Ustad Ahmad, kapan katanya mau ke sini?
Lilis : Insya Allah besok, Bu
Kenapa, Bu?
Ibu Fat : Ah, tidak (berusaha berdiri)
Kamu tadi belajar apa di surau?
Lilis : Oh, ya. Tadi belajar tentang kewajiban berbakti kepada orang tua. Apapun yang diperintahkan oleh orang tua mesti diturut, sepanjang itu bukan keburukan dan dosa syirik. Anak yang tidak menurut perintah orang tua bisa durhaka, berdosa besar. Oh, ya Bu. Cerita Si Malin Kundang yang dikutuk ibunya itu ‘kan cuma dongeng ya, Bu?
Ibu Fat : Kenapa dengan Si Malin Kundang?
Lilis : Ya, dia ‘kan yang dikutuk oleh ibunya hingga jadi batu karena durhaka
Ibu Fat : Kamu mau dikutuk jadi batu? (menggoda)
Lilis : (serius) Nggak mau, Bu
Tapi betul ‘kan itu cuma dongeng saja, Bu?
Ibu Fat : Itu memang sebuah cerita rakyat. Tapi bukan semata dongeng, sebuah cerita yang dibuat dengan tujuan supaya anak-anak menghormati ibunya. Supaya anak-anak tidak menjadi si Malin Kundang yang dikutuk itu. Di banyak tempat juga banyak cerita seperti itu, Nak. Di Jawa Barat misalnya, ada cerita Si Boncel
Lilis : Si Boncel? Bagaimana ceritanya, Bu?
Ibu Fat : Kata cerita ayahmu almarhum, dulunya Si Boncel ini orang miskin yang kemudian berhasil menjadi Bupati di Lebak, Banten sekarang. Bupati di masa yang silam, Dalem namanya. Si Boncel ini berhasil karena ia belajar mengasah kepandaiannya dengan rajin dan tekun serta upaya yang keras sekali. Bukan berhasil karena sim salabim. Suatu hari ia dikunjungi oleh kedua orang tuanya yang miskin itu, namun Si Boncel yang telah menjadi Dalem Boncel itu tak mau mengakui mereka sebagai orang tuanya karena malu berayah-ibu seperti itu. Lalu dengan kekuasaannya, diusirlah mereka yang mengaku orang tuanya itu
Lilis : Si Boncel juga dikutuk menjadi batu?
Ibu Fat : Tidak, ia hanya menyesal telah berlaku seperti itu. Lalu memohon ampun kepada kedua orang tuanya
Lilis : Mereka memaafkan kedurhakaan si Boncel?
Ibu Fat : Kata cerita ayahmu, mereka berdua memaafkan semua kesalahan si Boncel, anaknya. Ayah dan ibu si Boncel tidak sakit hati pada perlakuan anaknya itu. Si Boncel pun menerima kedua orang tuanya dengan baik dan berbakti sepenuh hati hingga keduanya meninggal karena usia
Lilis : Tapi bukankah cerita si Boncel ini juga sama dengan Si Malin Kundang?
Ibu Fat : Ya, sama-sama menceritakan bahwa ridlo dan restu orang tua itu sangat penting, agar hidup kita menjadi bahagia. Ridlo Ilahi adalah ridlonya orang tua, begitu pula murka Ilahi adalah murkanya orang tua. Itulah cerita si Boncel yang dulu diceritakan ayahmu, Lis.
Lilis : Kalau tidak dikutuk ceritanya nggak serem
Ibu Fat : Mengapa harus dikutuk? Mengapa harus seram?
Lilis : ‘Kan biasanya cerita begitu. Apalagi yang berbau legenda
Ibu Fat : Bukankah orang tua itu pemaaf, Lis? Orang Sunda bilang, “Laer kandungan, laer aisan”
Lilis : Artinya apa, Bu?
Ibu Fat : Hm, kau tahu, sembilan bulan seorang ibu mengandung anaknya. Kandungan itu makin lama makin besar, itulah laer kandungan. Sedangkan buaian itu adalah kain untuk menggendong si anak hingga akhirnya bisa berjalan sendiri, itulah laer aisan. Artinya karena anak-anak itu berasal dari kandungan ibunya, serta pernah lama dalam buaian orang tua, maka mereka tahu kelemahan dan kelebihan anaknya. Dengan begitu apapun yang dilakukan anaknya, orang tua akan dengan senang hati, lega lilah, menerima perlakuan anaknya, walaupun itu menyakiti hatinya. Itulah sebabnya ada pula kearifan, “Munjung kudu ka indung, muja kudu ka bapa ”, bukan, “Munjung ka gunung dan muja ka sagara”
Lilis : (tertawa) Apalagi itu artinya?
Ibu Fat : (tersenyum) Ya itu tadi, berbaktilah kepada ibu dan ayah kita. Ibu kita yang harus selalu dijunjung, Ayah kita yang mesti selalu dipuja. Bukannya gunung dan lautan.
Lilis : Oh, begitu. Tapi kenapa Bu, banyak anak yang tak betah berada di rumah?
Ibu Fat : Itulah, Nak. Banyak hal yang mempengaruhi sifat anak-anak hingga berperilaku demikian. Mungkin gunung junjungannya dan laut pujaannya, ayah atau ibunya, tak begitu memberi warna pada watak anak-anaknya. Banyak orang tua yang jarang atau bahkan tidak berkomunikasi dengan anak-anaknya. Mereka kehilangan kasih sayang. Hingga mereka mencoba mencarinya di luar rumah
(menarik napas panjang)
Itulah pula yang Ibu takutkan, Nak. Apalagi Ibu membesarkan kalian sendiri, setelah ayahmu meninggal. Uang pensiun ayahmu dari hari ke hari semakin tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Oh, ya, kakak-kakakmu kemana, Lis?
Lilis : Tidak tahu, Bu. Tapi tadi siang Lilis melihat Kak Kiki dan Kak Dodo sedang bersama teman-temannya di……. (diam)
Ibu Fat : Di mana, Lis? Setiap pulang sekolah mereka selalu langsung pergi lama sekali
Lilis : Anu, Bu, di….
Ibu Fat : Di mana? (memandang tajam)
Lilis : Kak Kiki pesan jangan bilang-bilang sama Ibu (menangis)
Ibu Fat : (merangkul) Lilis sayang tidak sama Ibu, hm?
Lilis : Lilis sayang, Bu
Ibu Fat : Nah, kalau Lilis sayang sama Ibu, tentunya Lilis juga sayang sama Kiki (menarik nafas panjang)
Lilis juga sayang sama Dodo. Sayang semuanya. Kita harus selalu mengingat, bahwa kita ini adalah keluarga, harus saling memperhatikan, saling memperingatkan kalau ada kesalahan (batuk-batuk)
Nah, kalau terjadi sesuatu dengan kakak-kakakmu bagaimana, Lis?
Lilis : (menangis dipangkuan Ibu) Lilis sayang sama Ibu, Lilis juga sayang sama kakak-kakak Lilis. Lilis sayang Kak Kiki, Lilis juga sayang Kak Dodo….
Ibu Fat : Hm, di mana mereka, Lis? Sudah malam begini, hm?
Lilis : Di rumah Kak Silvi, Bu
Ibu Fat : Silvi, Silvi yang di ujung jalan itu?
Lilis : Betul, Bu
Ibu Fat : (menghela nafas) Sudah berulang kali Ibu larang pergi dan bergaul dengan anak itu….
Lilis : Ibu sebaiknya beristirahat saja, Bu, sudah malam. Nanti Kak Kiki dan Kak Dodo juga pulang
Ibu Fat : Biar Ibu di sini saja, Lis (batuk-batuk)
Biar Ibu tunggu
Lilis : Nanti sakit Ibu tambah parah, Bu
Ibu Fat : Nggak apa-apa, nggak apa-apa , Lis (batuk-batuk)
Lilis : Tuh, ‘kan Ibu batuk-batuk terus (mengambilkan baju hangat)
Kalau Ibu di sini terus, Ibu nggak sayang kami
Ibu Fat : (tersenyum) Kamu pandai benar membujuk Ibumu, Lis (berdiri)
Kamu pandai merayu, seperti almarhum ayahmu
Lilis : Ibu sudah minum obatnya untuk malam ini?
Ibu Fat : Sudah
Lilis : Ya, Lilis hanya mengingatkan saja, Bu. Obat itu mesti diminum 3 kali sehari
Ibu Fat : Itu adalah obat terakhir yang Ibu minum, Nak. Kamu tak usah kembali membeli obat buat Ibu. Lebih baik uangnya disimpan untuk kebutuhan sehari-hari atau untuk keperluan sekolah kamu dan kakak-kakakmu
Lilis : Kalau Ibu belum sembuh sebaiknya beli lagi, Bu.
Ibu Fat : Jangan. Ibu merasa sudah agak baikan.
Lilis : Kalau begitu Ibu sebaiknya harus segera beristirahat. Biar nanti Lilis yang akan ke rumah Kak Silvi.
Ayo Bu, kita ke kamar Ibu
(Keduanya memasuki kamar. Tidak lama kemudian muncul Kiki dengan berjingkat-jingkat. Kiki masuk dengan membawa dua tas. Masih berpakaian sekolah. Baru saja menaruh tas di atas meja, Lilis keluar dari kamar Ibu. Kiki segera merunduk berlindung dari pandangan Lilis)

Lilis : Inilah yang aku khawatirkan. Sungguh tidak enak setiap kali harus berbohong pada Ibu kalau sudah bertanya soal kakak-kakakku, Kak Kiki dan Kak Dodo.
Kiki : (berbisik) Tapi kamu akan selalu mendapat sebatang cokelat….
(sambil menunjukkan sebatang cokelat utuh)
Lilis : Ups! Kak Kiki!
Kiki : Sst! Jangan berisik. Ibu sudah tidur?
Lilis : Baru saja. Kak Dodo mana, Kak?
Kiki : Di rumah Silvi. Ini tas dan seragam sekolahnya dititipkan. Kak Dodo selalu bawa baju ganti. Kakak juga pulang hanya mau ganti baju saja. (Bergegas)
Ini cokelat buat kamu. Nanti kalau Ibu tanya, bilang Kakak sedang belajar bersama ya?
Lilis : Tapi, Kak….
Kiki : Sudahlah, Kakak sudah ditunggu yang lain
(Berganti pakaian dengan cepat)
Lilis : Ibu menanyakan Kakak terus
Kiki : Sudahlah, jangan banyak omong. Bilang saja nggak usah khawatir. Kak Lilis sama Kak Dodo baik-baik saja
Lilis : Sebaiknya Kakak temui Ibu dulu
Kiki : (Minum dari gelas dengan cepat) Nanti sajalah. Lis, Obat Ibu sudah habis?
Lilis : Ya (ikut duduk)
Tapi Ibu bersikeras tidak mau menebus obat lagi
Kiki : Kenapa? (Sambil berdiri)
Lilis : Katanya lebih baik uangnya buat keperluan sehari-hari atau untuk keperluan sekolah kita
Kiki : Hm, sudahlah, ngomongnya nanti saja. Kakak sudah ditunggu teman-teman Kakak yang lain. Jangan lupa, itu cokelatnya buat kamu, dah!
(Kiki segera bergegas keluar. Tak dipedulikannya Lilis)
Lilis : Kak….
(Lilis mencoba mengejar ke arah Kiki yang keluar. Lalu kembali duduk. Tangannya mengambil cokelat yang tergeletak diatas meja)
Lilis : Cokelat… cokelat…. Dengan cokelat yang manis ini mulutku telah menjadi pahit
(Cokelat itu hanya dipermainkan dengan tangannya )
Lilis : Kakak-kakakku telah memperlakukanku sebagai anak kecil yang mudah dibujuk. Dibuai sekaligus dibodohi. Dengan cokelat ini aku jadi terbiasa berbohong. Lidahku menjadi kelu untuk mengatakan kebenaran. Lidahku telah dibuat menjadi ketagihan dan hatiku diam-diam mulai senang dengan bujukan cokelat ini.
Ya, Tuhan. Aku, si Lilis ini, apa bedanya dengan Kakak-kakakku yang lain? Bukankah dengan demikian aku juga sudah termasuk berkomplot karena bersetuju dengan perbuatan mereka dan tutup mulut? Cokelat ini telah sanggup menutup mulutku.
Ibu, maafkan aku. Maafkan kesalahan-kesalahanku (cokelat itu dipegang dengan kedua tangannya dan ditekan ke dahi)
Dengan cara apa aku menebus kesalahan-kesalahanku, Ya Tuhan? Hapuskan kebodohan dan kealpaan dari dalam diriku. Bimbing aku menata kembali keluarga ini. Bantu aku, Ya Tuhan. Bantu keluargaku ini. Satukanlah hati kami kembali. Aku, Kakak-kakakku dan Ibuku. Jangan Kau biarkan keluarga kami tercerai-berai, berjalan sendiri-sendiri. Persatukanlah kami kembali, Ya Allah. Apapun cara-Mu. Kuatkanlah kembali keluarga ini, agar kami sanggup menghadapi cobaan-Mu. Kami berserah diri pada kekuasaan-Mu, Ya Allah
(Lampu panggung digelapkan)






BABAK II

(Panggung di biarkan kosong. Masuk Tukang Koran disusul Dalang dengan peralatannya )

Tukang Koran : Koran, koran, koran…!
Berita hangat, berita hangat, anak anak remaja usia belasan tertangkap basah sedang pesta obat-obatan haram
Koran, koran, koran…!
Berita hangat, satu lagi ditemukan sebuah rumah menjadi tempat produksi dan peredaran narkoba
Koran, koran, koran…!
Grup : Bang, jualan koran malam begini!
Tukang Koran : Eh, kalian nggak tahu berita hangat!
Grup : Berita hangat apaan, Bang?
Tukang Koran : Lha, ini, anak-anak remaja teler!
Grup : Sudah dibilangin, koran mah sekarang udah nggak laku!
Orang sudah pada pindah ke internet, Bang!
Tukang Koran : Nah, ini, kalian ini sudah tertinggal zaman….
Grup : Tertinggal zaman gimana?
Tukang Koran : Wah, betul-betul tertinggal zaman kalian ini (serius)
Eh, tahu nggak?
Grup : Nggak!
Tukang Koran : Gas mahal!
Grup : Wah!
Tukang Koran : Minyak tanah hilang di pasaran!
Grup : Wah!
Tukang Koran : Tarif telepon naik!
Grup : Wah!
Tukang Koran : Tarif listrik naik!
Grup : Wah!
Tukang Koran : Jadi berhentilah dulu main internet….
Grup : Apa hubungannya dengan listrik?
Tukang Koran : (berkacak pinggang) Makanya kalian jangan suka menghina orang kecil, orang kecil itu banyak mengalami langsung kejadiannya, merasakan langsung! Orang kecil sudah lama menjerit!
Grup : Iya, deh, iya, tapi apa hubungannya dengan listrik yang naik?
Tukang Koran : Ya, buat ngakses berita dari internet ‘kan perlu listrik, padahal harga koran masih terjangkau!
Grup : Huh…, promosi terselubung!
Dalang : Sudah, sudah! Kalian ini selalu saja ribut
(menjewer kuping Tukang Koran)
Gara-gara kamu sih! Berita-berita surat kabar memang sering menghasut
Tukang Koran : Dan dituduh tak bertanggung - jawab!
Dalang : Ah, ngomong sama kamu mah mengerikan masa depan
Tk. Koran : Nasib…, nasib….
Grup : Eh, Pak Dalang, cerita selanjutnya bagaimana sih?
Grup : Iya, nih, gimana sih, penasaran!
Dalang : Nyok deh kita lanjutkan, begini ceritanya…. (membuka buku catatan)
Tadi itu sampai Lilis dan Ibunya khawatir ya?
Grup : Iya, terus?
Dalang : Nungguin Kiki dan Dodo ya?
Grup : Iya, terus?
Dalang : Lalu datang si Kiki yang pulang hanya buat ganti baju, ya?
Grup : Iya, terus?
Dalang : Terus-terus apaan? Memangnya tukang parkir!
Mestinya nanya dong, di mana itu dua anak? Pergi ke mana?
Dan ngapain, gitu… jangan malah terus? Terus? Terus?
Grup : Habis Pak Dalang bikin kita penasaran….
Tukang Koran : Koran, koran, koran, makanya beli koran….
Dalang : Hus! Kamu ini ikut-ikutan saja, sudah sana pergi
Grup : Iya, tuh dari tadi mengganggu saja
Dalang : Sst…suatu hari kita mesti percaya dengan berita
(meneliti buku)
Tapi, kita mesti hati-hati dengan berita juga pembawa beritanya!
Grup : Cerita seterusnya bagaimana sih, Pak Dalang?
Heu-euh, kumaha terusna ieu teh?
Dalang : Yok, kita lihat saja, sedang apa sih si Kiki dan si Dodo itu yang katanya sedang belajar bersama? Ce-ileh, belajar bersama. (Kembali pada sikap berwibawanya)
Ada kalanya kota dianggap sebagai simbol kemajuan. Namun tidak jarang pula kota menjadi contoh yang menyuguhkan kerusakan dengan dalih gaya hidup. Kenakalan remaja, kini tak lagi menjadi fenomena kota-kota besar. Ia bahkan sangat, sangat dekat dengan kehidupan kita. Kenakalan remaja, menampilkan wajahnya dalam aneka rupa dan bentuk. Narkoba mengepung masa depan remaja kita.
(Menatap ke penonton)
Kamera…action!
(Dalang keluar sambil menari diikuti tingkah lucu Tukang Koran)
(Panggung digelapkan)

(Masuk ke panggung dua remaja pria disusul teman-temannya sambil membawa tape musik dengan lagu terkini. Suasananya hiruk-pikuk)
Silvi : Wah, gila! Musiknya asyik banget! (geleng-geleng kepala)
Eh, teman-teman semua asyik nggak musiknya?
Eva : Asyik bikin sport jantung!
Kiki : Musik ini memang lagi Top!
Vera : Gedean lagi dong, yang full!
(dua remaja pria saling pandang mendengar hiruk pikuk itu)
Billy : Gila! Sudah full begini dibilang kurang?
Tio : Orang sudah pada suping gara siba mokin!
Billy : Siba mokin? Eh, gara siba mokin itu apa sih?
Tio : (Teriak karena suara musik) Ah, kamu, bahasa prokem kamu nggak ngerti
Billy : Aku tahu, bahasa prokem itu kan bahasa yang dibolak-balik, digonta-ganti, dan cuma dimengerti segelintir orang `kan?
Tio : Kamu tahu, nanya segala
Billy : Tapi bahasa begini aku cuma tahu sedikit
Lha, gara?
Tio : Gara itu artinya gara-gara.
Billy : Siba?
Tio : Siba itu abis
Billy : Mokin?
Tio : Mokin itu minum!
Billy : (Manggut-manggut) Kalau suping?
Tio : Coba kamu ulang 2-3 kali kata itu….
Billy : (Gumam) Suping-suping-suping…su-ping-su-ping-ping-su….
Tio : (Tertawa) Apa artinya, Bill?
Billy : (Ikut tertawa) Nggak tahu! Pusing!
Tio : Nah, tuh! Kamu tahu artinya….
Billy : (Kaget) Astaga… suping itu pusing? Jadi… suping
Gara siba mokin itu… (keduanya tertawa)
Tio + Billy : T-E-L-E-R!!!
Silvi : Eeh, kalian kenapa sih?
Eva : Iya…, ada apa sih ketawa-ketawa?
Tio : Nggak… (mematikan tape)
Kiki-Eva-Silvi : Eeh, jangan dimatikan, lagi asyik neh!
Tio : Sebentar, Dodo kemana sih?
Billy : Iya, kemana tuh si Bajingan tengik?
Kiki : Enak aja bilang kakakku bajingan!
Billy : Eit! Nanti dulu, jangan marah dulu dong! (berkelit karena ditinju Kiki)
Biar aku jelaskan!
Kiki : Apa?
Billy : Dengar, Manis
Grup : Deuh….
Billy : Dalam dunia kita yang gaul ini banyak kata-kata yang dibolak-balik, digonta-ganti. Jadi…, yang aku maksudkan bajingan itu pahlawan!
Kiki : (cemberut) Tahu!
Silvi : Eeh, aku setuju apa kata Billy. Dodo itu pahlawan, dan bagi aku sendiri Dodo memang benar-benar pahlawan, sekaligus pacar yang baik dan manis
Vera : Ah, kamu kalau sudah muji Dodo….
Tio : Kamu puji aku dong, say….
Vera : Itu hanya untuk kita berdua, sayangku….
Grup : Huuu….
Vera : (menghadap grup) Eh, sirik saja!
Grup : Bukanya sirik, Non, cuma sebel aja lihatnya gitu…. Lagian ngapain sih kumpul-kumpul nggak ada juntrungnya?
Silvi : Eeh, ini namanya mode. Tahu!
Kiki : Anak muda, modern!
Grup : Eh, Kiki, kamu tahu nggak, adikmu dan ibumu gelisah nungguin kamu sama kakakmu….
Grup : Iya, nggak sayang sama Ibu
dosa, lho…
Billy : Alah, sudah! Sekarang yang penting Dodo kemana?
(Dodo masuk dengan membawa botol minuman. Wajahnya nampak gelisah)
Tio : Kemana saja kamu, Do? Kayak hilang ditelan bumi
Dodo : Wah, Gawat! Gawat kawan-kawan!
Silvi : Gawat gimana, Sayang…?
Dodo : Gawat! Tadi waktu aku membeli minuman dan obat-obatan di tempat yang biasa kita beli itu…..
Silvi : Toko yang tersamar toko obat itu?
Dodo : Iya!
Silvi : Aku percaya toko itu aman, nggak bakal ada yang curiga
Dodo : Benar, selama ini juga begitu
Kiki : Terus?
Dodo : (menatap teman-temannya satu-persatu) Ada polisi yang menggeledah toko itu….
(kelompok remaja itu saling pandang)
Billy : Sebaiknya kita pergi, bubaran saja!
Silvi : Dengan mulut bau alkohol begini?
Vera : Baiknya kita bubar! Pulang ke rumah masing-masing!
Kiki : Aku setuju!
Silvi : Enak saja! Aku tidak akan membiarkan pesta kita tidak selesai dan berantakan!
Kiki : Tapi suasananya gawat, Silvi…..
Vera : Iya, dan kita `kan masih remaja, masih dibawah umur. Ayah dan ibu kita juga melarangnya. Aku nggak mau berurusan sama polisi.
Kiki : Benar, semua orang tua melarangnya, bukan semata karena kita belum cukup umur. Dan berurusan dengan polisi? Siapa yang mau?
Tio : Iya, lebih baik kita pulang
Silvia : Tidak! Tak seorangpun boleh menghancurkan pestaku (menatap satu-satu temannya)
Yang berani meninggalkan pesta ini bersiaplah untuk tidak kuundang lagi dan tidak menjadi temanku lagi, pergilah!
(Tak ada seorangpun yang bergerak. Hening sejenak….)
Dodo : Aku yakin polisi itu sedang mengintrogasi pemilik toko dan sebentar lagi pasti menuju ke sini
Silvi : Dari mana kamu tahu?
Dodo : Polisi itu pasti curiga dan menanyai pemilik toko karena kebanyakan yang datang membeli adalah remaja
Silvi : Siapa tahu cuma beli obat sakit kepala, bisa saja `kan remaja sakit kepala?
Dodo : Iya ….
Silvi : Nah, aman `kan?
Dodo : Tidak, tidak akan ada seorangpun yang percaya kalau yang dibeli adalah obat sakit kepala biasa dan pembelinya tidak mungkin sakit kepala setiap hari
Silvi : Tapi aku tidak ingin pestaku berantakan hanya karena kecurigaan polisi yang belum tentu terbukti dan belum tentu datang ke sini. Itu hanya prasangka kalian yang penakut dan pengecut!
Dodo : Tapi namamu sudah sangat dikenal, Silvi
Silvi : Sudah, begini saja (diam)
Kita pindah ke tempat lain, kita lanjutkan pesta kita. Dodo, kamu pakai mobilku. Tio dan Billy buka garasi, cepat!
(Mereka bergegas berbenah, beberapa di antaranya ada yang sesekali menenggak minuman)

(Tiba-tiba pintu diketuk. Mereka saling pandang)
Tio : (Berbisik) Polisi?
Billy : Polisikah?
(Pintu terus diketuk)
(Remaja-remaja itu saling mendorong dengan pucat)
Vera : (Histeris) Ya ampun, Ibu. Vera janji tidak akan begini lagi
Vera janji mau jadi anak penurut, Vera mau belajar!
Vera sayang ibu, Ya Tuhan, aku janji nggak akan mabal lagi
Eva : Aduh bapak, ampun! Eva ngaku salah, Eva, Eva….

( Pintu kembali diketuk, kali ini ada suara orang)
Lilis : Kak Silvi….
(mereka saling pandang. Silvi kemudian maju ke pintu)
Silvi : Siapa? (ke teman- temannya)
Pengecut semua. Masuk!
Lilis? (lega)
Ada apa malam-malam begini, Lis?
Lilis : Saya mencari Kak Dodo dan Kak Kiki, ada Kak?
Silvi : Ada…. (menatap Lilis) tapi kami akan pergi (menoleh ke arah Dodo dan Kiki)
Ini adikmu mencari
Kiki : Ada apa, Lis?
Lilis : Ibu, Kak
Kiki : Ada apa dengan Ibu?
Lilis : Ibu sakit, menanyakan Kakak terus
Dodo : (Datang mendekat) Bilang ke Ibu, kita disini baik-baik saja, sedang belajar bersama
Silvi : Iya, Kak Silvi dan Kakak-kakak Lilis sedang belajar bersama
Vera : Aduh, tolong…! (yang lain menoleh)
Sepertinya aku kencing di celana
Eva : Oh, kenapa aaakku …. a a ku aku, kok basah?
(sejenak ada yang tertawa meledek)
Grup : Gede-gede ngompol!

(Perhatian kembali ke Lilis. Dodo dengan bersungut menyuruh Lilis pulang)
Lilis : Ibu sakit, Kak
Dodo : Ibu memang sakit, nggak usah khawatir
Kiki : Iya, bilang Kak Kiki dan Kak Dodo sedang belajar bersama dan mungkin menginap, Ibu nggak usah menunggu
Silvi : (Mendesis) Ibu cerewet.…
Lilis : Baiklah, kalau itu maunya Kakak, hanya saja Ibu kali ini gelisah sekali, Ibu sangat khawatir dengan Kakak berdua, kalau Kakak tidak mau pulang rasanya keterlaluan.…
Ibu Sayang sekali sama Kakak, setiap hari Ibu menanyakan Kakak, takut ada apa-apa….
(Kakak beradik saling pandang)
Dodo : Kami baik-baik saja, tapi mungkin tidak pulang karena kami harus belajar
Lilis : Baiklah, Kak, saya pulang, kalau Kakak bohong Allah Maha Kuasa dan Allah Maha Tahu….
(Lilis keluar panggung. Dodo dan Kiki saling pandang)

Silvi : Ayo, semuanya kok jadi orang bego! Cepat kita berkemas kita pesta di jalan saja!

(Mereka kemudian berbenah dan bergegas keluar panggung)
Kiki : Aku ingin pulang. Firasatku nggak enak….
Silvi : (menarik tangan Kiki) Alah, sudah!

(Panggung digelapkan. Kembali masuk Dodo dan Billy menunggu kunci mobil)
Dodo : Sepertinya aku tak bakal sanggup mengemudi. Kamu saja Bill
Billy : Kenapa, Do? Tak seperti biasanya….
Dodo : Entahlah, aku serasa pusing sekali
Billy : Biasanya kamu selalu jadi pemimpin, selalu punya inisiatif. Memimpin kami, dan terus terang aku iri padamu, Do.
Dodo : Iri karena apa?
Billy : Karena kepandaianmu di sekolah dan kepandaianmu memimpin. Kamu juga banyak disukai teman-teman wanita. Terus terang dulu aku merasa benci padamu, ternyata kupikir itu bukan benci tapi iri saja.
Dodo : Ah, kamu, setiap orang juga jadi pemimpin. Negeri ini juga harus punya pemimpin, bukan?
Billy : Kamu ini, Do. Di saat teler begini masih juga bisa berfikir jernih tentang negeri ini.
Dodo : Hh… memangnya kenapa?
Billy : Bagiku negeri ini sudah tak ada.
Dodo : Apa? Hahaha… kamu ini lucu
Billy : Ya, bagiku negeri ini sudah tak ada. Aku sudah lama memendam rasa putus asa dengan negeri ini, masa depanku yang suram. Banyak saudaraku juga menganggur dan aku yang ada di sekolah hanya menunda waktu saja untuk kemudian akan bernasib sama seperti saudara-saudaraku yang lain, yakni menganggur, tanpa pekerjaan…. Sulit bagiku percaya pada negeri ini. Negeri ini hanya punya pengaruh yang kecil saja. Namanya sebatas hapalan ketika upacara bendera atau ketika menghadapi ujian.
Dodo : Kamu pikir aku tak punya pikiran begitu?
Billy : Kamu nampaknya menikmati semua ini. Kamu pandai….
Dodo : Huh! Sejak ayahku tak ada, aku pesimis menatap masa depanku. Banyak tetanggaku menyuruh anak-anaknya pergi ke luar negeri, bukan untuk sekolah, tapi bekerja. Ada yang ke Korea, ke Jepang, Thailand, Malaysia dan ke negeri-negeri lain. Anak-anak perempuannya banyak yang ke Arab Saudi, jadi TKW. Kamu pikir mereka bekerja sesuai keahlian? Kepandaian? Tidak!
Mereka bekerja dengan upah yang sesungguhnya murah. Tapi mereka mau, dan memilih pergi karena memang di sini tak ada kesempatan. Dan itu artinya bagiku banyak kehilangan teman. Ya, kampungku rasanya sepi tak ada teman sebaya.
Billy : Kamu sendiri punya rencana bekerja ke luar negeri seperti mereka?
Dodo : Ya, di kampungku pergi bekerja ke luar negeri sudah menjadi kebanggaan. Duit hasil bekerja dapat disimpan atau dipakai membeli tanah, membuat rumah, membeli mobil, motor atau membantu membayar hutang yang lama tak terbayar. Kesulitan hidup karena himpitan ekonomi telah membangun tradisi berhutang….s
Billy : Aku makin kagum padamu, Do.
Dodo : Kagum pada apanya? Ini adalah pikiran orang yang putus asa.
Billy : Ya, di saat kita seperti ini, siapa yang memikirkan kita?
Dodo : Pemimpin-pemimpin di negeri kita selalu ribut, sulit mencari teladan, dan kita di sini, mabuk terus!
Billy : (Tertawa pahit) Hahaha… korup terus, mabuk juga terus!
(Masuk Silvi membawa kunci mobil)
Silvi : Tangkap nih, Do. Ayo, kita berangkat! Ngobrol apa kalian? Nampaknya serius banget.
Billy : Ngomongin masa depan.
Silvi : Alah, tak usah serius dipikirkan. Hidup hanya sekali.
Nikmati sajalah, berfikir serius terus nanti cepat beruban. Cepat jadi tua!
Mari kita nikmati indahnya hidup di dunia
Billy : (Membuka tas pinggangnya. Dilemparkannya ke Dodo) Itulah makanya kita berkumpul di sini. Terimalah ini, tanda aku menghormati persahabatan kita.
Dodo : Wah! Betul, nih? (Hampir melompat)
Ini adalah tas pinggang terkeren, terimakasih Bill!
Billy : (Mengangkat jempolnya) Untuk pemimpin kita!
Silvi : Oke? Kita berangkat?
Billy : Kamu siap untuk mengemudi `kan, Do?
Dodo : (Terbawa suasana gembira) Siap! Selalu siap!
Billy : Soalnya aku betul-betul nggak bisa ikut. Kasihan si Tio yang bawa motor. Dia teler berat!
Secepatnya nanti aku menyusul!
Dodo + Silvi : Oke, sip!
(Panggung digelapkan)



BABAK III

(Panggung dibiarkan kosong. Masuk Tukang Koran)
Tukang Koran : Koran, koran, koran!
Ini koran paling baru
Koran, koran, koran!
Ini beritanya paling baru
Penangkapan, penangkapan, penangkapan!
Konspirasi, konspirasi, konspirasi!
Grup : Penangkapan siapa, Bang?
Tukang Koran : Penangkapan Ketua Komisi Pemberantasan Kutu
Grup : Hah? Siapa, tuh?
Tukang Koran : Rahasia lah….
Grup : Memang ada Komisi Pemberantasan Kutu?
Tukang Koran : Ada. Disingkat KPK, ka – pe – ka!
Grup : Deuh, mentang-mentang punya informasi
Tukang Koran : Informasi itu, mahhhal!
Grup : Lha, itu konspirasi, konspirasi apa pula, Bang?
Tukang Koran : Ya, itu tadi,
Grup : Itu, tadi, apa?
Tukang Koran : Penangkapan itu berbau konspirasi!
Grup : Wow, bahasa yang susah. Artinya, Bang?
Tukang Koran : Sudahlah, beli saja korannya….
Grup : Bisa aja!
Tukang Koran : Bisa gitu, loh!

(Masuk Dalang. Langsung menjewer Tukang Koran)
Dalang : Kamu ini
Tukang Koran : Aduh, aduh, ampun Pak Dalang!
Dalang : Kamu sudah berkali-kali diberi tahu TIDAK BOLEH BERJUALAN DI SINI, masih juga berjualan!
Tukang Koran : Ampun, Pak Dalang! Saya cuma jualan koran, surat kabar, newspaper, bukan yang lain! Lagipula siapa tahu antara saya sebagai Tukang Koran dan Bapak Dalang bisa tercipta konspirasi.
Dalang : Konspirasi apa?
Tukang Koran : Konspirasi Tingkat Tinggi
Dalang : Wah, apa itu?
Tukang Koran : Ya, itu. Seperti yang ditulis di koran-koran. Keren `kan, Pak?
Dalang : Sudah, sudah, kamu memang membahayakan. Asal keren tapi nggak tahu artinya.
Tukang Koran : (Sambil pergi) Koran, koran, penangkapan, konspirasi, konspirasi, konspirasi…
Dalang : Konspirasi (Geleng-geleng kepala)
Dasar keras kepala!
Grup : Keras kepala atau kepala keras?
Dalang : Dua-duanya benar.
Grup : Eh, Pak Dalang bagaimana sih cerita selanjutnya?
Dalang : Oh, iya. Kita mau lanjutkan cerita ini. Cuma bagian ini agak susah memberi pengantarnya nih.
Grup : Lho, kok susah? Bukankah anda sebagai dalangnya?
Dalang : Soalnya, bagian ini sulit dijelaskan. Tapi, tapi kita lihat saja deh, siapa yang akan muncul.
(Set disiapkan. Tio dan Billy muncul dengan mengendap)
Lihat, lihat, siapa tuh?
Aha, ada Tio dan Billy rupanya. Tapi, tapi kenapa dengan mereka ini?
(Keluar dari panggung dengan cara mundur. Berlawanan dari munculnya Tio dan Billy)
Tio : Aman?
Billy : Aman.
Tio : Bagaimana? Beres?
Billy : Beres.
Tio : Sip!
Billy : Tadi aku lama menahannya di luar. Sampai berbusa aku memuji si Bajingan tengik itu! Kamu punya cukup waktu untuk mengutak-atik rem mobil?
Tio : Cukup. Pekerjaan begitu bagiku sangat gampang. Mereka kini sedang dalam perjalanan ke neraka. Sebuah perjalanan yang tidak akan mereka lupakan seumur hidup
Billy : Aku sungguh ingin tahu bagaimana reaksinya mengendarai mobil dengan rem yang blong begitu
(Menirukan orang takut)
Oh, oh, tolooong, hahaha….
Tio : Kau bayangkan saja sendiri, hahaha….
Billy : Ingin tahu bagaimana wajahnya si Bajingan tengik itu saat kuberikan dia tas pinggangku?
Tio : Hm, ya? Gimana? Gimana?
Billy : Si Bajingan itu hampir-hampir saja melompat seperti orang gila!
Dasar orang kampung!
Tio : Betul, betul-betul kampungan!
Tapi kau tidak lupa menaruh barang itu di sana, bukan?
Billy : Ya, tentu saja. Empat linting, utuh!
Tio : Mampuslah!
Billy : Sekali tepuk dua lalat mati. Sekali menebas pedang, dua pendekar terkapar!
Kita tak perlu banyak keluar energi. Tinggal kita menunggu kabar selanjutnya. Hohoho, betul-betul menegangkan.
Tio : (Tiba-tiba terkaget sendiri) Tapi, bagaimana dengan teman-teman yang lain? Apalagi mereka perempuan?
Billy : Astaga! Kenapa ini tak kita pikirkan? Mereka – Silvi, Vera, Eva dan Kiki – juga ada dalam mobil yang sama? Goblok!
(Marah)
Kamu goblok, Tio!
Tio : Heh, sembarangan! Kamu yang goblok! Memangnya siapa yang punya rencana gila begini? Kamu, Billy!
Billy : Tapi, tapi, kamu `kan yang mencabut rem mobil itu? Bukan aku!
Tio : He, kalau bukan karena kamu yang mengatur sekaligus menjanjikan aku akan selalu mendapatkan barang dengan gratis, aku tak bakal mau. Kamu jangan mengelak Billy, aku bisa menyudutkanmu kalau terjadi apa-apa pada mereka. Aku dapat dengan mudah lepas tangan. Kau bisa dituntut! Kau bisa dipenjara! Kau yang membunuh mereka, bukan aku! Bukan aku!
Billy : (Terduduk di lantai dengan lemas) Astaga, mengapa hal begini tak terpikirkan dengan matang. Kita terburu-buru, hanya karena nafsu dan kebencian pada kawan kita sendiri.
Tio : (Ikut duduk) Nafsu kadang membuat kita gelap mata. Tak sanggup berpikir dengan jernih.
Billy : Sungguh, Tio, aku menyesal. Aku tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi pada mereka, teman dan sahabat kita sendiri
Tio : Kalau sudah begini, apa yang bisa kita lakukan?
Billy : (Terdiam) Entahlah, aku benar-benar tak tahu lagi harus berbuat apa.
Tio : Bagaimana kalau kita berdoa?
Billy : Doa? Apakah itu akan menolong?
Tio : Entahlah. Aku sudah lama tak pernah berdoa
Billy : Itulah. Aku juga sudah lama tak pernah berdoa
(Keduanya terdiam)
Tio : Sejak kecil aku sering disuruh ayah dan ibuku belajar mengaji ke musola dekat rumah kalau magrib tiba dan pulang selepas isya. Awalnya saja aku rajin. Selain takut dimarahi kalau aku tak berangkat mengaji.
Billy : Ya, aku juga begitu. Aku mengaji sekedarnya saja, sekedar turut bagaimana umumnya. Sekarang, aku merasa asing pada diriku sendiri.
Tio : Asing?
Billy : Ya, demi mendengar ceritamu tentang masa kecil. Kita sama-sama menyimpan kenangan tentang masa-masa itu tapi menjadi sangat mahal ketika kita hanya mampu mengenangnya saja.
Tio : Aku tidak mengada-ada. Cerita tentang masa kecil itu terasa sayup-sayup sampai. Ia terasa menyegarkan. Menyegarkan ingatan kita pada masa-masa ketika kita polos, suci dari noda.
Billy : Aku masih ingat bagaimana dulu aku pernah membaca cerita komik tipis bergambar surga dan neraka. Serasa aku yang berpayah-payah meniti jalan tajam “sirotol mustaqim”, untuk kemudian berhasil sampai ke seberang. Entahlah, apa aku akan sanggup menyeberang atau terjatuh ke dalam neraka api jahanam yang menyala-nyala itu?
Tio : Kau membaca komik tipis dan jelek itu?
Billy : Ya, kenapa? Walau jelek tapi sekarang kita malah seolah baru saja membacanya.
Tio : Karena aku juga membacanya. Buku tipis dengan gambar-gambar mengerikan. Ada lidah yang dipotong tapi kembali tumbuh untuk kemudian digunting kembali, demikian berulang-ulang
Billy : Itu untuk yang berkata dusta dan gibah, membicarakan keburukan orang lain.
Tio : (Tertawa) Kamu masih mengingatnya?
Billy : Ya, tapi kenapa hal begini membuat aku jadi begitu cengeng?
Terbayangkankah apa balasan bagi kita yang baru saja membuat muslihat bagi teman kita sendiri? Barangkali jenis hukumannya sama sekali baru.
Tio : Baru?
Billy : Ah, sudahlah, apa sebutannya untuk orang yang berkhianat pada teman dan sahabatnya sendiri? Kita di sini tertawa karena berhasil memperdayai mereka, sedang mereka susah payah menghadapi maut karena ulah kita.
Tio : Kau membuatku takut.
Billy : Mengapa baru omong sekarang?
Tio : Penyesalan selalu muncul belakangan
Billy : Tapi benar katamu, sebaiknya kita berdo’a. Karena saat ini kita tak tahu lagi harus bagaimana. Nasi sudah menjadi bubur.
(Panggung digelapkan)












INTERMEZO

(Panggung digelapkan. Pelan-pelan terang. Muncul penyair dan penyanyi)

Penyanyi 1 : “Kasih Ibu kepada Beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi
Tak harap kembali
Bagai Sang surya
Menyinari dunia….”

Penyair : Kasih Ibu
Bukan kasih sepenggalah
Ia ada dari sejak mengandung
Melahirkan dan membesarkan

Kasih Ibu
Bukan kasih sepenggalah
Darahmu dagingmu jiwamu ragamu
Adalah sejatinya kasih sayang


Kasih Ibu
Bukan kasih sepenggalah
Langkahmu pikirmu katamu cita-citamu
Adalah harapan kecemerlangan

Penyanyi 2 : “ Bercucuran air mata bila ku terkenang
Betapakah besar jasa Ibunda berikan
Bagi insan di dunia hingga akhir masa
Duhai apakah gerangan budi balasan
Bagi insan melahirkan membesarkan
Tiada bahagia bila tiada doa puja restu
Sorga itu di telapak kaki Ibu…”

Penyair : Jejak langkahnya telah ribuan mil
Jejak yang tak mungkin dapat engkau lewati
Sekalipun dengan seluruh kekayaan yang kau miliki
Di dalamnya ada darah, keringat dan air mata
Yang dibungkus hitungan usia

Bukankah selalu engkau rasakan keinginan untuk selalu pulang
Meniti jalan ke rumah kecilmu
Lalu bertemu senyum penuh ketegaran itu
Yang tak ternilai
Sekalipun seluruh isi dunia kau genggam

Bukankah selalu engkau rasakan keinginan untuk datang
Mendekat pada pangkuannya kembali
Berharap ampun dan maafnya
Atas kelalaian dan kekhilapanmu

Duhai, pernahkah engkau membasuh kakinya?

Penyanyi 3 : “Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah penuh
Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas Ibu, Ibu

Ingin ku dekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu
Lalu doa – doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas Ibu, Ibu…”

Penyair : Setiap waktu ia rela berkorban untukmu
Rela berbagi sesuap nasi bahkan menahan lapar untuk kenyangmu
Sedia memberi terang untuk menerangi gelapmu
Di dalam kantungnya ada kehangatan untuk dingin gigilmu
Di lubuk hatinya tersedia bermilyar kata maaf bagi kenakalanmu
Yang tak akan pernah susut sekalipun kau ambil setiap waktu
Kasih Ibu bukan kasih sepenggalah….

Penyanyi 4 : “ Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda

Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku

Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang

Nada- nada yang indah
Selalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Ta’kan jadi deritanya

Tangan halus dan suci
Telah mengangkat tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Telah dia berikan

Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang

Oh Bunda ada dan tiada dirimu
Kau selalu ada di hatiku…”

Penyair : Temukanlah dirimu kembali
Di antara bertumpuknya jelaga kehidupan
Dan pekatnya noda
Untuk sampai pada kebeningan

Di antara kelopak bunga mawar
Dan wangi tanah di bawah siraman air
Di antara debu yang terhembuskan ke udara
Hisaplah wewangian alam raya itu
Laksana bayi tertatih berjalan

Lihatlah, ketika engkau terjatuh itu
Siapa yang bertepuk tangan paling keras?
Ibu,
Dialah yang bahkan paling dahulu mengulurkan tangan
Membujukmu agar tak pecah tangismu

Di padang kehidupan
Kita bertanding di tengah gelanggang
Bertaruh pada masa depan
Percayalah, ada yang lebih dahulu menangisi peperanganmu
Mendahului kalah menangmu







BABAK IV

(Muncul Dalang. Di belakangnya disiapkan set panggung dengan Lilis dan Ibunya dalam bentuk siluet)
Dalang : Para penonton sekalian, ini kita akan kita lihat bagaimana akhir ceritanya (Memandang sekilas ke sosok Lilis dan Ibunya).
Di mana-mana, di atas dunia ini tak ada seorangpun Ibu yang tidak mencintai anaknya, menyayanginya. Semua Ibu mencintai dan menyayangi anaknya, buah hatinya.
Hati seorang Ibu laksana sebuah radar yang bergerak-gerak sesuai gerak dan tingkah laku anak-anaknya.
Mari kita ikuti saja kelanjutan cerita ini.
Tukang Koran : (Masuk tiba-tiba) Koran, koran, koran!
Berita hangat, berita hangat, Penyidikan Polisi…
Dalang : St, jangan berisik (dengan suara berbisik pelan)
Tukang Koran : Ada apa? (juga dengan berbisik pelan)
Dalang : Ini sudah bagian akhir.
Tukang Koran : Belum, ini baru tahap Penyidikan Polisi!
Dalang : Apanya?
Tukang Koran : Penangkapan Ketua Komisi Pemberantasan Kutu!
Grup : Yeh, makanya gaul atuh!
Ikut nimbrung seperti Jaka Sembung, nggak nyambung!
Tukang Koran : Lah, apa sih? Apanya yang nggak nyambung?
Dalang : Sudah, sudah. Coba kamunya ke sini dulu. Berdiri dengan manis di sini. (Tukang Koran itu menuruti perintah Dalang)
Nah, di sini. Ya, begitu.
Tukang Koran : Begini?
Dalang : Ya, begitu. Harus khidmat. Harus khusu.
Para penonton sekalian, akhirnya kita sampai pada babak terakhir dari drama kita malam ini. Ada kalanya kita yang masih punya waktu untuk merenungkan apa yang sudah kita lakukan untuk Ibu kita tercinta. Mumpung kita masih punya waktu dan kesempatan. Menghiburnya, membahagiakannya. Percayalah kesempatan dan waktu seperti itu amat sangat mahal. Walaupun kita tak akan sanggup untuk berbakti. Pada akhirnya ibu adalah segalanya bagi kita.
Di negeri kita memang belum ada perlombaan untuk sepenuh-penuhnya berbakti kepada orang tua, untuk kemudian mendapatkan piala laksana kontes. Tetapi paling tidak, kita malam ini sedikitnya tercerahkan, bahwa ada yang penting dan agung dalam hidup kita, sesuatu yang mungkin terabaikan. Yakni berbakti. Berbakti.
Selamat malam!

(Dalang dan Tukang Koran keluar dengan diiringi musik pengiring. Suara seruling yang menyayat hati)
Ibu Fat : Di saat ayahmu masih ada, jika sedang gelisah seperti ini maka ayahmu selalu datang menghibur. Meyakinkan Ibu bahwa kita harus selalu yakin bahwa Tuhan akan menjaga anak- anak kita ketika mereka jauh dari rumah, ketika mereka hilang dari pandangan… Suara pesan ayahmu itu menjadi obat penawar yang mampu membuat hati Ibu kembali tenang.
(Batuk – batuk)
Kamu sudah bertemu Kakak - kakakmu, Lis?
Lilis : Sudah, Bu.
Ibu Fat : Lalu, kenapa mereka belum juga mau pulang?
(Batuknya bertambah kerap)
Lilis : Mereka bilang sedang belajar, Bu.
Ibu Fat : Siapa saja mereka itu, Lis?
Lilis : Selain Kak Silvi, ada Kak Vera, Kak Eva….
Ibu Fat : (Kaget) Siapa? Vera, Eva?
Lilis : Betul, Bu.
Ibu Fat : (Batuk- batuk dan menarik nafas panjang yang berat)
Dua hari lalu ibunya Vera dan Eva mengunjungi Ibu di sini, (batuk-batuk) karena pusing akhir-akhir ini sering sekali berbohong, dan yang lebih menyakitkan, ternyata SPP-nya nunggak 8 bulan, begitu juga dengan Eva, ibunya tak habis pikir kenapa ia sering minta uang jajan yang jumlahnya besar yang dikatakannya itu untuk keperluan sekolah.
(Menatap Lilis)
Ibu sangat takut anak-anak Ibu juga berbohong karena salah bergaul, salah memilih teman. Sekali kita salah memilih teman, salah dalam bergaul, maka sangat sulit untuk melepasnya. Hanya tekad yang keraslah, keinginan dari dalam hatinyalah yang dapat melepaskan diri dari jerat pertemanan yang keliru seperti itu.
Lilis : Bu,… Lilis, Lilis tidak tahu… Lilis harus berbuat apa?
Lilis lihat mereka sepertinya tidak sedang belajar.
Ibu Fat : Apa ada teman lelakinya?
Lilis : Kak Tio, (mengingat)
Kak Billy
Ibu Fat : Masya Allah! Anakku….
Lilis : Kenapa, Bu?
Ibu Fat : Semoga mereka belum terlalu jauh, dua anak itu setahun yang lalu seharusnya dipenjara karena menyimpan linting ganja, hanya saja karena pengaruh ayah mereka maka mereka tidak terjaring hukum, ya Allah, Anakku. Semoga saja anak-anakku terhindar dari kejahatan narkoba.
Lilis : Semoga saja tidak, Bu.
Ibu Fat : Ya, semoga saja begitu, Lis (menarik nafas panjang)
Hanya saja akhir-akhir ini perasaan Ibu sangat tidak enak. Selalu berdebar aneh. Seperti sebuah firasat buruk, tetapi apa namanya, Ibu sangat tidak tahu, kecuali pasrah kepada Tuhan.
(tiba-tiba pintu diketuk, disusul terdengar salam yang berwibawa)
Lilis : Waalaikum salam, silahkan masuk.
Ibu Fat : Siapa, Lis?
Lilis : Tidak tahu, Bu… tetapi, sepertinya suaranya saya kenal, oh, Pak Ustad Ahmad!
Ibu Fat : Oh, Pak Ustad, silahkan masuk, maaf seadanya….
Pak Ustad : Tidak apa, saya yang seharusnya minta maaf karena datang malam-malam begini.
Ibu Fat : Ada apa, Pak Ustad?
Pak Ustad : Begini, Bu Lilis, jangan panik, ini namanya musibah dan musibah itu tanda bahwa Allah masih menyayangi kita.
Ibu Fat : Musibah? Apa maksud Pak Ustad?
Pak Ustad : Kiki dan Dodo… Putra Ibu….
Ibu Fat : Ada apa dengan anak saya, Pak Ustad?
Pak Ustad : Saya baru mendapatkan kabar ada sebuah mobil yang dikendarai anak-anak remaja mengalami kecelakaan. Mobil itu dikendarai oleh Dodo, putra Ibu. Dodo dan kawan-kawannya kecelakaan.
Ibu Fat : Astagfirullah! Anakku….
Pak Ustad : Menurut keterangan polisi, rem mobil itu tiba-tiba saja blong. Mobil itu menabrak pohon. Bagian depan dari mobil itu rusak parah. Saya baru saja pulang melihat mereka.
Ibu Fat : Astagfirullah! Anakku ….
Pak Ustad : Tenang Bu, tenang, semuanya selamat. Ada beberapa yang terluka berat, terutama yang duduk di depan. Hanya saja Dodo memang agak parah karena ia yang memegang setir dan sekarang masih di Rumah Sakit.
Ibu Fat : Masya Allah!
Pak Ustad : Kiki juga selamat. Hanya luka ringan saja dan saya ajak dia kemari walaupun dia pada awalnya menolak. Saya sengaja memaksanya untuk dapat mengantarnya pulang. Ia masih trauma dengan kecelakan itu (Diam).
Hanya saja Kiki takut bertemu Ibu. Mungkin bukan takut, tapi malu saja.
(Berdiri dan memanggil Kiki)
Ki, kemari Ki….
Kiki : (Menghambur ke pangkuan ibunya)
Maafkan Kiki, Bu….
Kiki salah, Kiki berdosa pada Ibu, Kiki mohon ampun….
Ibu Fat : (Mengusap kepala Kiki)
Anakku, oh, anakku. Apa yang sebenarnya terjadi, Nak?
Kiki : Kiki salah, Bu…. Meninggalkan Ibu ketika sakit, Kiki salah.....
Ibu Fat : Ibu memaafkanmu, Nak, selalu memaafkanmu, karena Ibu sayang kamu
Kiki : (Terisak) Terima kasih, Bu. Tapi, Bu, Kak Dodo…
Ibu Fat : Ya, kita nanti akan menjenguknya segera. Kamu dan Lilis bersiaplah. Bawalah segala yang dianggap perlu dibawa sebagai perlengkapan ke Rumah Sakit
Pak Ustad : Ehm…. Bu Lilis….
Ibu Fat : Panggil saya Fatimah, Pak Ustad
Pak Ustad : Begini, Bu Fatimah. Sebelum kita berangkat menengok Dodo di rumah sakit, saya ada yang hendak eum, saya sampaikan…
Ibu Fat : Ada apa, Pak Ustad?
Pak Ustad : Saya sudah memikirkan dan mempertimbangkan hal ini lama sekali (Menarik nafas panjang)
Saya tahu, mendidik anak sekarang ini sangat sulit. Apalagi Ibu Fat ini memiliki tiga anak tanpa seorang ayah karena sudah meninggal mendahului kita. Anak-anak membutuhkan perhatian seiring dengan perkembangan usia mereka. Anak-anak itu memerlukan perhatian, bimbingan dan kasih sayang, bukan semata-mata terpenuhinya kebutuhan jasmani berupa limpahan materi.
Jika Ibu tidak keberatan, saya mau melamar Ibu untuk menjadi istri saya. Saya melamar untuk menjadi ayah bagi anak-anak Ibu. Saya ingin menjadi teman berbagi untuk sama-sama membesarkan mereka, membimbing mereka mengejar cita-cita bagi masa depan mereka. Saya ikhlas….
Ibu Fat : (Tergagap) Saya, saya….
Pak Ustad : (Memotong) Tidak perlu diungkapkan, Bu, saya sudah mengerti.
Ibu Fat : Tidak. Jika maksud Pak Ustad adalah karena kelemahan saya dalam membesarkan mereka sebagai anak-anak saya, rasanya saya masih sanggup, walaupun dalam kondisi begini.
Pak Ustad : Jangan salah mengerti, Bu Fat. Bagi saya, ini adalah salah satu cara yang terpikirkan untuk menolong Ibu dan anak-anak. Tentu, Ibu Fat memiliki kemampuan untuk membesarkan mereka, namun berangkat dari niat yang tulus, saya mohon sudilah kiranya saya diizinkan untuk dapat membantu Ibu dan anak-anak menggapai impian mereka, demi masa depan mereka….
(Menarik napas berat)
Bu Fat, nampaknya untuk mengurus Dodo kita masih harus berpanjang-panjang….
Bu Fat : Berpanjang-panjang? Apa maksud Pak Ustad?
Pak Ustad : Begini. Pada saat petugas Rumah Sakit yang ditemani polisi berusaha menemukan identitas. Di tas pinggangnya ditemukan 4 lintingan barang terlarang
Bu Fat : Masya Allah?
Pak Ustad : Itulah. Saya sendiri sulit sekali percaya. Tapi keadaannya demikian.
Kiki : Tapi, Pak Ustad, seingat saya tas pinggang itu bukan kepunyaan Kak Dodo
Pak Ustad : Lho? Punya siapa?
Kiki : Itu punya Billy
Bu Fat : Dodo, anakku….
Pak Ustad : Hm, baiklah. Paling tidak kesaksianmu nanti dapat kamu sampaikan pada polisi. Kasus seperti ini sangat tidak mudah. Kecuali Dodo memang benar-benar bersih.
Kiki : Saya berani bersumpah itu milik Billy!
Pak Ustad : Ya, ya, semoga saja polisi dapat kita yakinkan
Ibu Fat : Malang benar nasibmu, Nak
Pak Ustad : Kita harus tetap mendampinginya. Dia memerlukan dukungan kita untuk memulihkan rasa percaya dirinya kembali. Kita akan bersama-sama mendukungnya agar kembali menemukan kediriannya. Sementara ini Dodo masih terbaring koma
Ibu Fat : Hm, mimpi apa saya semalam, hingga mendapatkan lamaran Pak Ustad dalam situasi seperti ini?
Pak Ustad : Dalam musibah senantiasa ada hikmah. Hikmah adalah laksana barang yang hilang dalam hidup kita. Saya berharap pertemuan kita sekarang ini ada dalam sebuah rencana Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Ibu Fat : Amin….
Pak Ustad : Mari kita bersama-sama menjenguk Dodo!
(Panggung digelapkan)

T A M A T

2 comments:

  1. zyie uchul felis domesticaApril 5, 2010 at 10:39 PM

    makasih yah naskah nya,,
    berguna banget,,,
    untuk drama ku,,
    doain sukses ya mainin drama yang kamu buat,,

    by:sutradara belia
    zye

    ReplyDelete
  2. untuk Zyie, senang sekali jika dapat dipentaskan, selamat semoga sukses,

    salam,
    Osdu

    ReplyDelete